oleh: Prof. Farid Alatas*

Tahukah Anda jika pada era kekhalifahan Abbasiyah, penganut mazhab Hanafi dan Syafii di kawasan Irak dan Iran memperingati hari Asyura hampir sama seperti Syiah hari ini? 

Fakta tersebut hanya contoh bagaimana sosiologi Syiah tidak bisa berdiri sendiri apalagi terpisah dari sosiologi sunnī. 

Berbicara mengenai sosiologi Islam, kita harus kritis terhadap relasi kedua mazhab besar Islam: Islam sunnī dan Islam Syiah.

Saat ini, kita memandang peringatan Asyura hanya eksklusif kaum Syiah. Negara mayoritas sunnī tidak sering merayakannya. 

Sebenarnya, mereka menderita semacam keterasingan dari sejarahnya sendiri. Mereka tidak tahu kalau peringatan Asyura itu juga bagian dari tradisi sunnī.


Islam sunnī, Islam Syiah

Klasifikasi studi Islam saat ini sering kali dipolitisasi. Selama berabad-abad, kita diberi tahu kalau ada dua jenis Islam: Islam sunnī dan Islam Syiah. 

Kita percaya kalau imam yang empat dari ahlusunah hanya khusus bagi sunnī. Akibatnya, muncul anggapan kalau tokoh sunnī muncul dari tradisi yang berbeda dari madrasah ahlulbait.

Padahal faktanya, para tokoh ahlusunah lebih dekat dengan ahlulbait nabi dari yang kita bayangkan. 

Imam Syāfi’ī, begitu cinta kepada ahlulbait. Selama hidupnya, dia dituduh sebagai seorang rafidhī atau penganut Syiah oleh sunnī radikal. 

Tanggapan Imam Syāfi’ī, “Jika dengan mencintai ahlulbait menjadi seorang rafidhī, saksikanlah bahwa aku seorang rafidhī.” 

Ada kalimat masyhur dalam Kitāb Al-Fihrist karya Ibnu An-Nadim:

کان الشافعی شدیداً فی التشیع

Imam Al-Syāfi’ī sangat kuat dalam kesyiahannya.


Dari contoh tersebut, kita bisa melihat kalau ada banyak aspek sejarah di masa awal Islam yang diabaikan akibat pemahaman Islam yang dipolitisasi. 

Klasifikasi sunnī sebagai “ahlusunah waljamaah” merupakan contoh lain dari klasifikasi politik ini. 

Dalam kurun awal Islam, banyak muslim sunnī—pada saat yang sama—dianggap sebagai pengikut ahlulbait dan tidak meyakini “sunnī Umayah”.


Asal mula konflik

Kini, sosiologi Syiah malah menjadi semacam “sosiologi konflik” dengan sunnī. Sejak tahun 90-an, gejolak antara Syiah dan sunnī di dunia Islam meningkat. 

Konflik tersebut sampai memanifestasikan dirinya dalam bentuk pembunuhan sektarian. Konflik semacam ini memiliki analisis tersendiri dalam sosiologi.

Konflik mematikan ini tak hanya dipolitisasi, namun juga muncul dalam bentuk stereotip dan prasangka. 

Sebagai contoh, banyak sunnī mengira bahwa Syiah memiliki Al-Qur’an sendiri. Atau sunnī menganggap Syiah menyimpang dalam salat dan gemar mut'ah. 

Selain itu, sunnī pesimis karena melihat segelintir ritual Asyura dilakukan dengan cara menyakiti tubuh. Ada banyak stereotip di kalangan sunnī terhadap Syiah. 

Untuk memahami sosiologis tentang fenomena ini, kita perlu melihat proses yang terjadi dalam masyarakat sunnī: menuju salafisme secara bertahap. 

Di banyak negara mayoritas sunnī, pandangan anti-Syiah menyebar karena kecenderungan pemikiran salafī dan Wahabi. Fenomena ini mau-tak-mau berkaitan pula dengan geopolitik Timur Tengah.

Untuk bisa memegang kekuatan regional, Arab Saudi dan Qatar harus berkonflik dengan Iran. Mereka khawatir Iran menjadi kekuatan regional. Mereka lawan dominasi Iran. 

Jadi, dimensi sosial dari konflik kedua mazhab masih berkaitan dengan kondisi politik regional. Dimensi sosial pun—seperti stereotip dan prasangka sunnī terhadap Syiah—dimanfaatkan politisi.


Sunnī Muhammadī = Syiah ‘Alawī

Bagaimana seharusnya peran sosiologi dalam konteks ini? Sosiologi—dengan pendekatan kritis—harus mengeksplorasi dan mempertanyakan kembali klasifikasi dan stereotip apriori para penganut mazhab. Tidak ada ruang yang cukup untuk bisa menjelaskan kondisinya secara rinci.

Sederhananya, sunnī yang sesungguhnya bukanlah sunnī Umayah. Begitu juga Syiah yang sesungguhnya bukanlah Syiah Safawiyah (Safavi). Sunnī Muhammadī adalah Syiah ‘Alawī. 

Peran sosiologi yang kritis adalah untuk memperkuat fondasi bahwa sunnī Muhammadī adalah Syiah ‘Alawī.

__________
*Artikel ini merupakan ringkasan materi Prof. Farid Alatas dalam konferensi sosiologi Syiah. Farid Alatas merupakan profesor pada Departemen Sosiologi Universitas Nasional Singapura. Beliau merupakan salah satu cendekiawan dan sosiolog masyhur di Asia.