Mubahalah Nabi Muhammad saw dengan Pendeta Nasrani Najran terjadi pada tanggal 24 Dzulhijjah 10 H (631 M). 


Peristiwa tsb juga diceritakan dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 61, yang kemudian juga dikenal sebagai ayat mubahalah, yaitu:


"Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta."


Simak film singkat berikut ini yang menggambarkan bagaimana peristiwa tersebut terjadi. 




Peristiwa Mubahalah

Nabi Muhammad saw menulis surat kepada Uskup Najran berbarengan dengan peristiwa surat menyurat dengan para pemimpin pemerintahan dunia dan pusat-pusat keagamaan. Dalam surat tersebut Nabi saw mengharapkan penduduk Najran agar memeluk agama Islam.

Orang-orang Nasrani memutuskan untuk mengirimkan satu kelompok mewakili mereka ke Madinah untuk berbicara langsung dengan Nabi saw dan meneliti perkataannya. Rombongan Najran yaitu lebih dari 10 pembesar-pembesar kaum mereka yang dipimpin oleh 3 orang yaitu Aqib, Sayyid, dan Abu Haritsah datang ke Madinah.

Rombongan perwakilan tersebut berbicara dengan Nabi saw di Masjid Madinah. Setelah keduanya saling meyakinkan kebenaran kepercayaan masing-masing, mereka memutuskan untuk mengakhiri permasalahan dengan cara bermubahalah. Disamping itu, diputuskan pula esok hari semuanya keluar dari kota dan di padang sahara mereka siap untuk bermubahalah. Pagi-pagi di hari mubahalah, Rasulullah saw datang ke rumah Imam Ali as. Ia mengambil tangan Imam Hasan as sambil memangku Imam Husain as bersama Amirul Mukminin as dan Fatimah Sa, pergi meninggalkan kota untuk bermubahalah.

Pada saat kaum Nasrani menyaksikan mereka, Abu Haritsah bertanya mengenai siapa mereka yang bersama Nabi saw.

Mereka menjawab, "Yang di depan itu anak paman dan suami putrinya serta orang yang paling dicintai olehnya; dua anak itu adalah putra-putranya dari putrinya; dan wanita itu adalah Fatimah, putrinya yang paling beliau cintai." Nabi saw pada saat bermubahalah duduk di atas dua tumitnya. Abu Haritsah berkata, "Demi Allah, dia duduk sebagaimana para Nabi duduk untuk bermubahalah". Dia berkata, "Jika Muhammad tidak dalam kebenaran, dia tak akan berani bermubahalah; dan jika dia bermubahalah dengan kita, kurang dari satu tahun, tidak akan ada lagi seorang Nasrani pun yang tersisa di dunia ini. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa dia berkata, "Aku melihat wajah-wajah yang jika mereka memohon kepada Tuhan untuk mengangkat sebuah gunung dari tempatnya, maka gunung tersebut akan terangkat. Oleh karena itu, janganlah bermubahalah. Jika bermubahalah maka kau akan hancur dan tidak ada seorang Nasrani pun yang akan tersisa di dunia ini." Kemudian Abu Haritsah mendekati Nabi saw dan berkata, "Wahai Abul Qasim! Batalkanlah bermubahalah dengan kami dan berdamailah, karena itulah yang sanggup kami lakukan."

Kemudian Nabi saw berdamai dengan mereka dengan syarat setiap tahun mereka harus memberikan dua ribu helai pakaian yang setiap helainya 40 dirham dan juga jika terjadi perang dengan Yaman, mereka harus meminjamkan 30 pakaian perang, 30 tombak, dan 30 kuda kepada umat muslim dan Nabi saw menjamin untuk mengembalikannya. Dengan begitu, Nabi saw menulis surat perdamaian dan mereka pun akhirnya pulang. Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Demi Allah yang jiwaku di atas kuasanya, kehancuran orang-orang Najran saat itu telah dekat dan andai saja mereka bermubahalah dengan kita maka setiap orang dari mereka akan berubah menjadi monyet dan babi, setiap lembah berubah menjadi api sehingga mereka terbakar dan Allah swt akan menghancurkan orang-orang Najran bahkan tidak akan tersisa satu burung pun di atas pohon dan seluruh kaum Nasrani akan meninggal kurang dari satu tahun."

Setelah kaum Nasrani pulang, tidak lama kemudian Sayyid dan Aqib datang kembali menghadap Rasulullah dengan membawa hadiah dan mereka pun masuk Islam. _______ sumber: https://id.wikishia.net/view/Mubahalah