Salah satu tuduhan berat yang dialamatkan kepada kaum Syiah adalah kesesatan akidahnya. 

Dikatakan bahwa Syiah memiliki lima Rukun Iman, yaitu:
1.  Tauhid,
2.  'Adalah (keadilan Allah),
3.  Kenabian,
4.  Imamah,
5.  Ma’ad (hari kiamat).

Sebaliknya, kaum Sunni meyakini rukun iman berjumlah enam: iman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, kepada nabi-Nya, kepada qadha dan qadar, serta iman kepada hari akhir.

Dari situ, dikatakan bahwa Syiah dan Sunni hanya punya kesamaan keyakinan cuma pada tiga hal saja, yaitu keimanan kepada Allah, kepada Nabi, dan kepada hari akhir.

Lalu, karena perbedaan itu, orang-orang Syiah dipandang “bukan Islam”.

Apa Itu Keimanan dan Rukun Iman?

Keimanan secara sederhana bisa diartikan sebagai kepercayaan terhadap hal-hal tertentu di dalam ajaran agama. Kepercayaan itu lalu memberikan konsekuensi logis berupa pengamalan.

Segala hal yang dipercaya dalam konteks beragama disebut dengan keimanan. Iman kepada Allah berarti percaya akan adanya Allah sebagai Zat Pencipta dan Sesembahan kita.

Lalu apa itu rukun? Rukun artinya pilar. Jadi rukun iman berarti pilar keimanan.

Pengertian ini menunjukkan bahwa ada banyak pilar atau tonggak yang menjaga agar kita tetap beriman kepada Islam.

Lalu, agar memberikan panduan atau pegangan, para ulama merumuskan hal-hal pokok yang paling penting yang harus di-imani. Jadi, rukun iman adalah beberapa hal paling pokok yang dianggap sebagai pilar keimanan.

Poin Pentingnya yang Perlu Diketahui dan Digarisbawahi

Jika ada keimanan yang tidak dimasukkan ke dalam formula atau rumusan rukun iman, bukan berarti bahwa hal tersebut tidak wajib diimani. Kita tetap wajib mengimaninya, meskipun kita tidak menganggapnya sebagai keimanan yang paling pokok.

Contohnya ...

Dalam rukun iman Sunni tercantum iman kepada kitab-kitab suci, sedangkan di dalam rukun Syiah tidak tercantum. Apakah Syiah tidak mempercayai kitab suci?

Tentu saja tidak demikian. Orang-orang Syiah jelas meyakini keberadaan kitab-kitab suci dan bahwa kltab-kitab suci tersebut diturunkan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasulnya.

Hanya saja Syiah tidak mencantumkannya secara tersendiri, tapi memasukkannya ke dalam sub-bagian dari nubuwwah (kenabian), yaitu nubuwah para Nabi terdahulu, dan Nabi terakhir  Muhammad SAW.

Hal yang sama juga berlaku pada pilar keimanan kepada malaikat dan qadha/qadar. Syiah percaya bahwa malaikat ltu memang ada dan mereka masing-masing punya sejumlah tugas.

Syiah juga percaya bahwa Allah punya ketetapan yang tidak mungkin bisa dilawan oleh siapapun. Hanya saja, Syiah memasukkan bahasan tentang hal ini pada sub-bagian bab pembahasan yang lain.

Ibaratnya, ada dua penulis yang sama-sama menulis buku tentang ‘sumber daya alam’. Penulis A sangat mungkin membagi pembahasan dalam 15 bab, sementara penulis lain menulis 10 bab. Oleh penulis A, topik tentang ‘minyak bumi’ dijadikan pembahasan tersendiri di bab ke-5, sementara penulis B hanya memasukkan ‘minyak bumi’dalam salah satu sub-bab di bab 4.

***


Kelompok Sunni membatasi rukun iman hanya kepada enam perkara. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa Sunni tidak percaya kepada hal-hal lainnya.

Ketika Sunni hanya memasukkan adanya ketetapan Allah sebagai rukun iman, bukan berarti mereka menolak sifat-sifat Allah yang lain seperti Mahatahu, Mahahidup. dan Mahaabadi.

Sunni juga tidak memasukkan kepercayaan terhadap alam kubur dan kefanaan dunia dalam rukun iman mereka, meskipun jelas sekali bahwa mereka meyakininya.

Jadi ... sekali lagi ...  sekadar tidak memasukkan suatu kepercayaan ke dalam rukun iman, bukan berarti tidak mempercayainya. Itu point utama yang perlu kita sadari.

Lalu, mengapa ada banyak kepercayaan yang tidak dimasukkan ke dalam rukun iman? Mengapa orang Syiah tidak memasukkan keyakinan terhadap malaikat, keyakinan terhadap kitab, serta keyakinan terhadap qadha dan qadar ke dalam rukun iman mereka?

Mengapa Sunni tidak memasukkan keyakinan terhadap sifat adil Allah ke dalam rukun iman mereka?

Mengapa pula kedua mazhab itu sama-sama tidak memasukkan keyakinan-keyakinan lainnya, seperti keyakinan terhadap sifat Allah yang Mahahidup dan Mahaabadi, ke dalam rukun iman; padahal mereka juga mempercayai semua itu?

Tidak dimasukkannya semua kepercayaan ke dalam rukun iman memiliki dua alasan:

  • Pertama, terkait dengan keringkasan.
    Karena sangat banyaknya hal-hal yang dipercayai dalam agama Islam. Kalau semuanya masuk ke dalam rukun iman maka akan membuat rukun iman terdiri dari deretan panjang keyakinan. lni tentu saja bertolak belakang dengan makna rukun itu sendiri. Rukun adalah hal-hal yang paling pokok. Karena itu, yang dimasukkan ke dalam rukun iman adalah hal-hal yang paling pokok dari berbagai keyakinan tersebut.

  • Alasan kedua, adalah demi terstrukturnya sistem kepercayaan.
    Kepercayaan adalah sebuah sistem yang teratur. Memasukkan segala macam kepercayaan ke dalam rukun iman akan menunjukkan kekacauan dalam sistem keyakinan itu

***

Bagaimana dengan Rukun Islam Syiah?

Kasus yang sama juga berlaku pada rukun lslam-nya orang Syiah. Isu yang dihembus-hembuskan, orang Syiah punya rukun Islam yang berbeda, yaitu:
1.  Shalat,
2.  Puasa,
3.  Zakat.
4.  Haji,
5.  Wilayah.

Pertanyaannya, apakah orang Syiah tidak bersyahadat? Tentu saja mereka bersyahadat. Silakan telaah buku-buku tuntunan cara beribadah orang-orang Syiah. Pasti akan mendapati bahwa pembacaan Syahadatain (dua kalimat syahadat) merupakan salah satu kewajiban di dalam salat. Syahadatain juga wajib dibaca oleh khatib salat Jumat.

Penelaahan yang seksama terbadap bab-bab fikih orang Sy‘iah (bukan hanya bersandarkan kepada ‘katanya’) akan menuntun kita pada pemahaman bahwa apa yang dipercayai oleh orang Sunni sebagai pilar keislaman juga dipercayai oleh orang Syiah.

Orang Syiah juga percaya kepada ajaran amar makruf nahi munkar, munakahat (pernikahan), waqaf, jihad, mu’amalah. hukum warisan, thaharah, mengurus jenazah, dan lain sebagainya. Semuanya sama.

Seandainyapun ada perbedaan dalam tata cara, perbedaan tersebut amat sangat sedikit. Tapi, bukankah di antara mazhab fikih Sunni sendiri (Syafi’i, Maliki, Hanbali, dan Hanafi) ada banyak perbedaan dalam hal tata cara beribadah?


BEBERAPA POKOK PEMAHAMAN

Sebagaimana dijelaskan di atas, rumusan tentang Rukun Iman dan Rukun Islam pada prinsipnya adalah sebuah konsensus atau konvensi yang disusun oleh para ulama


Sayangnya, bagi sebagian masyarakat awam ... mereka telanjur beranggapan bahwa “Rukun-rukun Iman” dan “Rukun-rukun Islam yang dirumuskan dalam Teologi Asy’ariyah (yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia) adalah formula yang sudah final, baik isi ataupun tafsirannya. Sehingga formula itulah yang dijadikan sebagai parameter sesat tidaknya seorang Muslim.

Ada banyak fakta bahwa di antara para ulama Sunni sendiri ada perbedaan dalam memformulasikan rukun iman. Kita ambil contoh formulanya Syaikh Muhammad Abduh. ‘Baginya, pokok atau pilar keimanan itu hanya dua: iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir.

Berikut ini kutipan pernyataan Prof Quraish Shihab yang mengutip pemikiran Muhammad Abduh.

Syaikh Muhammad Abduh berkata bahwa rukun iman itu yang terpenting ada dua, yakni percaya kepada Allah dan Hari Kemudian. Perinciannya, bahwa uraian tentang Hari Kemudian tak dapat diterima oleh akal kecuali melalui utusan Allah (Rasul), sehingga kita pun perlu beriman kepada Rasul. Rasul tak mungkin mengungkapkan itu melalui nalarnya sendiri, melainkan menerimanya dari malaikat. Maka iman kepada maIaikat adalah hal yang sangat penting. Jadilah rumusan Rukun iman berkembang dari situ.

Karena itu mari kita coba telaah beberapa pokok pikiran berikut ini untuk menjadi bahan kajian dan perenungan, dalam bahasan terkait rukun iman ini, sehingga kita dapat memandangnya lebih jernih dan lebih tajam.

Satu:

Rukun Iman dan Rukun Islam yang dikenal luas oleh masyarakat di Indonesia adalah sebuah interpretasi spekulatif (pemikiran) yang bahkan sesungguhnya tidak mewakili pandangan teologi Sunni secara menyeluruh, karena teologi Asy’ariyah hanyalah salah satu aliran dari banyak himpunan aliran lain dalam mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Misalnya, aliran teologi Maturidiyah dan Mu’tazilah juga memiliki rumusan tersendiri tentang Rukun Iman dan Rukun Islam, yang juga berbeda dengan rumusan teologi Asya’riyah.

Ahlul Hadis dan teologi Salafi yang menganut teologi Ahmad bin Hanbal juga memberikan rumusan rinci tentang akidah yang juga berbeda dengan Asy’ariyah. 

Dua:

Rukun Iman dan Rukun Islam yang dikenal luas oleh masyarakat Muslim Indonesia sebenarnya adalah salah satu penafsiran teologis yang dirumuskan dari sebagian riwayat-riwayat dalam khazanah hadis dan sunnah. 

Dalam literatur hadis Ahlusunah sendiri terdapat banyak riwayat yang menyebutkan versi-versi berbeda dengan Rukun Iman dan Rukun Islam yang dibakukan dalam teologi Asy’ariah.

Di bawah ini sebagian dari buktinya, sesuai dengan hadis-hadis sahih di kalangan Ahlusunah.

  • Hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahîh mereka, bab Al-Imân Mâ Huwa wa Bayâni Khishâlihi:

Riwayat Imam Bukhari:
Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Pada suatu hari, Nabi Saw muncul di hadapan orang-orang. Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, ‘Apakah iman itu?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, percaya kepada pertemuan dengan-Nya, kepada rasul-rasul-Nya dan Anda percaya kepada yang ghaib.’”

Riwayat Imam Muslim:
Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Pada suatu hari, Nabi Saw muncul di hadapan orang-orang. Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, ‘Apakah iman itu?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, percaya kepada pertemuan dengan-Nya, kepada rasul-rasul-Nya dan Anda percaya kepada yang ghaib.’”

Hadis di atas menyebutkan bahwa Rukun Iman itu hanya:
(1) Beriman kepada Allah;
(2) Kepada para malaikat;
(3) Kepada kitab-Nya;
(4) Perjumpaan dengan-Nya;
(5) Kepada para rasul.
Tidak ada sebutan apa pun tentang kewajiban percaya kepada Qadha’ dan Qadar.

Hadis sahih lainnya, riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahîhnya, bab Al-Amru bi Al-Imân bi-Llah wa Rasûlihi, berbunyi sebagai berikut, “Aku perintahkan kamu agar mengesakan keimanan hanya kepada Allah! Tahukah kamu apa iman kepada Allah itu?” Mereka menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan salat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan membayar khumus (seperlima dari keuntungan/perolehan).’”

Hadis yang ini menegaskan bahwa inti keimanan itu adalah:
1.Bersaksi tiada tuhan selain Allah.
2.Bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.
3.Menegakkan salat
4.Membayar zakat
5.Berpuasa di bulan Ramadan
6.Membayar khumus.


Tiga
:

Kata “rukun Iman” dan “rukun Islam” adalah rumusan yang dibuat berdasarkan interpretasi kelompok dan aliran Asy’ariyah. Bukan dogma final yang “wajib” diterima. 

Karenanya, rumusan tsb tidak akan pernah sah menjadi parameter untuk menilai sesat dan tidak sesat kelompok lain. 


Empat:

Enam rukun iman aliran Asy’ariyah ini didasarkan pada Alquran. Yang perlu diketahui ialah perbedaan antara ‘percaya kepada’ dan ‘percaya bahwa’.

Semua item dalam rukun iman tsb lebih terfokus pada ‘kepercayaan kepada’, bukan ‘kepercayaan bahwa’.

Padahal kepercayaan kepada Allah, malaikat dan lainnya adalah buah dari kepercayaan bahwa Allah, malaikat dan lainnya. Inilah paradoks yang terlewat oleh banyak orang.

Lima:

Sumber pembentukan rukun iman dalam aliran Asy’ariyah terkesan berasal dari teks suci. Padahal menjadikan teks suci Al-Quran sebagai basis atau asas untuk merumuskan dasar keyakinan (yang semestinya merupakan produk spekulasi rasional) kurang bisa dipertanggungjawabkan.

Apabila AlQuran dijadikan sebagai dasar keimanan kepada Allah, yang merupakan sila pertama dalam rukun iman, maka konsekuensi logisnya, kepercayaan kepada Alquran haruslah mendahului kepercayaan kepada Allah.

Padahal bukankah AlQuran diyakini sebagai wahyu Allah setelah meyakini dulu tentang keberadaan Allah dan tentu juga setelah mengimani orang yang menerimanya (Nabi).

Kepercayaan akan keberadaan Allah mesti diperoleh melalui akal fitri .. sebelum mempercayai AlQuran.

Setelah percaya akan keberadaan Allah, dan kemudian percaya pada utusanNya (para Nabi as) ... barulah bisa percaya pada apa yang dibawanya (kitab suci atau AlQuran).

Jadi tidak mungkin dasar-dasar keimanan dimulai dari AlQuran dulu. Itu terbalik namanya.

Alquran adalah petunjuk bagi orang yang telah beriman. Artinya terlebih dahulu ia harus iman dulu pada Allah dan nabinya. Baru kemudian iman kepada kitabNya.


Enam:

Dalam teologi Asy’ariyah rukun Iman mendahului rukun Islam.

Padahal dalam sebuah ayat suci melukiskan bagaimana orang-orang Arab Badui mengakui telah beriman tapi Nabi Saw diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru ber-Islam, sebab iman belum masuk ke dalam hati mereka. 

Allah berfirman: Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah, “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurât [49]: 14)


Tujuh:

Rukun pertama dalam Rukun-rukun Iman adalah keimanan kepada Allah. Apa maksud dari kalimat ini? Apakah meyakini keberadaan-Nya saja ataukah keesaan-Nya?

Sekadar ‘kata kepada Allah’ masih menyimpan banyak pertanyaan-pertanyaan. Apakah iman ini berhubungan dengan ‘iman kepada’ ataukah ‘iman tentang ketuhanan’?

Persoalan teologi tidak sesederhana yang dibayangkan oleh sebagian orang. Pernahkah kita mendengar ayat yang terjemahannya (kurang lebih): Dan sesungguhnya apabila kau (Muhammad) tanyakan mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, niscaya mereka menjawab, Allah. (QS. Al-’Ankabût [29]: 61)

Bukankah ini sudah memenuhi standar keimanan kepada Allah?


Delapan:

Rukun kedua adalah iman kepada malaikat. Mestinya bukan iman kepada para malaikat, tapi iman tentang malaikat. ‘Iman kepada’ mestinya muncul setelah ‘iman tentang’.

Selain itu, iman kepada malaikat semestinya tidak muncul setelah iman kepada Allah (iman akan wujud Allah). Bagaimana mungkin bisa meyakini wujud para malaikat lengkap dengan departemen-departemennya sebelum mempercayai Alquran yang mewartakannya?

Alasan yang dikemukakan oleh pendukung argumen ini ialah bahwa iman kepada para malaikat itu tercantum sebagai salah satu sifat mukmin dalam AlQuran.

Memang benar. Tapi, bila kepercayaan kepada atau tentang wujud para malaikat dianggap sebagai rukun (keyakinan fundamental) karena tertera dalam Alquran, maka bukankah seluruh yang diberitakan dalam AlQuran juga mesti dijadikan rukun pula.

Bukankah semua yang ada dalam AlQuran mesti diimani (dipastikan adanya)? Kalau pun keimanan kepada (tentang) para malaikat memang sebuah keharusan, tapi mestikah dijadikan rukun?

Apa alasan rasional dan implikasi teologis dari keimanan kepada malaikat sehingga layak menempati urutan kedua dalam rukun iman, apalagi rukun yang mendahului iman kepada kenabian?


Sembilan:

Rukun ketiga dalam rukun-rukun Iman adalah iman kepada (tentang) kitab-kitab suci. Apa yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab suci?

Apakah kita mesti beriman kepada Injil, Taurat dan Zabur sebagai kitab Allah? Ataukah kita mesti meyakini bahwa Injil, Taurat dan Zabur pernah menjadi kitab-kitab suci? Apakah AlQuran juga termasuk di dalamnya?

Bila AlQuran juga termasuk di dalamnya, maka timbul pertanyaan yang layak dijawab, logiskah mengimani AlQuran dari teksnya itu sendiri? Logiskah meyakini Alquran sebagai wahyu karena Alquran menetapkannya demikian di dalamnya?

Selain itu, mestinya keimanan tentang Injil, Taurat dan Zabur sebagai kitab suci bersumber dari Alquran, tapi meyakini Alquran sebagai wahyu Allah bersumber dari kenabian Muhammad Saw. Padahal keimanan kepada para nabi muncul setelah keimanan kepada kitab-kitab suci. Ini benar-benar membingungkan.

Lagi pula, apa urgensi keimanan kepada (tentang) kitab-kitab itu sebagai rukun? Mengimaninya memang keharusan, tapi mengapa dijadikan sebagai rukun?

Lagi-lagi, bila alasannya dicantumkan dalam daftar rukun iman karena tertera dalam Alquran, maka mestinya banyak hal lain dalam Alquran yang bisa dimasukkan dalam rukun-rukun iman.


Sepuluh:

Rukun keempat dalam Rukun Iman adalah iman kepada (tentang) para rasul. Apakah yang dimaksud dengan ‘para rasul’ itu semua utusan minus Nabi Muhammad? Bila ya, mestinya hal itu diyakini setelah meyakini kenabian Muhammad Saw.

Padahal keyakinan akan kenabian Muhammad mestinya tidak didasarkan pada Alquran, karena keyakinan akan kebenaran Alquran bersumber dari keyakinan akan kebenaran klaim Muhammad Saw sebagai nabi.

Keimanan kepada kebenaran Alquran sebagai wahyu adalah konsekuensi dari keyakinan akan kebenaran Muhammad sebagai nabi.

Bila tidak, artinya keimanan kepada para rasul plus Muhammad, maka hal itu menimbulkan kontradiksi.

Bagaimana mungkin meyakini nabi Muhammad dan para nabi yang tercantum dalam Alquran, padahal keyakinan akan Alquran sebagai kitab wahyu muncul setelah keyakinan akan kebenaran klaim kenabian Muhammad Saw sebagai nabi.


Sebelas:

Rukun kelima dalam Rukun Iman adalah iman tentang ketentuan Allah, baik dan buruk. Ini salah satu paradoks teologi yang paling membingungkan.

Poin kelima ini telah dikritik oleh para teolog Sunni kontemporer karena dianggap sebagai sumber fatalisme.


Duabelas:

Rukun keenam adalah iman kepada (tentang) hari akhir. Inilah poin keimanan yang letaknya paling sistematis. Ia memang pantas berada di urutan terakhir. Hanya saja, perlu diperjelas, apakah hari akhir itu hari kiamat (di dunia) atau hari setelah kebangkitan (pasca-dunia).


Tigabelas
:

Bila dua kalimat syahadat tidak termasuk dalam rukun iman, maka konsekuensinya, manusia yang mengimani enam rukun di atas, meski tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, bisa dianggap
mukmin.

Bila rukun Islam tidak menyertakan iman sebagai syarat kemusliman, maka konsekuensinya, seseorang bisa dianggap muslim meski tidak meyakini rukun iman kecuali bila rukun Iman ditetapkan sebagai syarat bagi rukun Islam.

SYIAH - ANTARA FITNAH DAN FAKTA

Ada bermacam-macam fitnah yang ditudingkan kepada mazhab syiah. Tulisan berikut ini membahas secara ringkas 14 topik-topik kontroversial tentang syiah yang paling sering dipertanyakan masyarakat luas, diantaranya tentang penghinaan pada sahabat, tentang quran syiah, tentang rukun iman dan rukun islam syiah, tentang nikah mut'ah, dllsb. 

Ingin baca lebih detilnya? Klik tombol dibawah ini:

 


_______
Tulisan ini berasal dari ramuan ulang dari sumber-sumber berikut (dengan sedikit perubahan bahasa):

- https://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/index.php/s13-berita/menyikapi-perbedaan-rukun-iman-dan-rukun-islam-sunni-dan-syiah/

- https://www.ahlulbaitindonesia.or.id/berita/index.php/s13-berita/srukun-iman-syiah-berbeda/