Dalam Surat Al-Waqi’ah ayat 79, Allah SWT berfirman :

لَا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.”

Ada sebagian mufassir yang mengartikan ayat itu, bahwa untuk menyentuh Al Quran, maka diperintahkan untuk berada dalam keadaan suci, misalnya dalam Tafsir Jalalain.

Padahal:

1.  Tidak ada kalimat perintah dalam ayat tersebut

2.  Jika kata “menyentuh” hanya dimaknai kontak fisik, faktanya siapapun secara dhahir bisa menyentuh/kontak dengan kitab Al Quran, entah itu orang yang dalam keadaan bersuci atau kafir yang najis sekalipun.

3. Di ayat tersebut bacaannya  adalah “al-muthahharun” (المطهرون ) dimana kata dasar / akarnya dari “tathhiir”(التطهير)



Kata “التطهير” adalah masdar/dasar (مصدر), sementara “المطهَرون” adalah ism maf’ul (اسم مفعول) atau kata pasif (yang dikenai/object), bukan pelaku/subject. 

Jadi, makna seharusnya adalah "orang-orang yang disucikan" atau orang-orang yang dikehendaki Allah untuk disucikan. Bukan orang yang mensucikan diri.

Maka makna yang paling tepat untuk kata “menyentuh” adalah "memahami hakekat" (menyentuh secara hakekat), atau menghayati, atau mendalami.

Dan orang yang bisa/mampu menyentuh hakikat Al Quran itu ialah orang-orang yang dikehendaki Allah untuk disucikan.


Siapakah Orang-Orang Yang Disucikan Itu?

Sebagian mufassir lain, misalnya Ibnu Katsir, mengartikan mereka itu adalah para malaikat.

Padahal 'kan Al Quran itu diturunkan kepada manusia, untuk dapat dijadikan hujjah manusia di hari kiamat kelak. 

Untuk apa Al Quran diturunkan kepada manusia jika hanya malaikat yang dapat menyentuh hakikatnya?

Maka, jawaban yang logis, rasional, dan diterima akal sehat adalah yang dimaksud dengan orang-orang yang disucikan yang dapat memahami hakikat Al Quran sebenar-benarnya (100%) adalah tentu dari golongan manusia.


Lantas, siapakah mereka?

Mereka adalah yang diterangkan dalam AlQuran, Surat  Al Ahzab ayat 33, yang dikenal dengan "ayat at-Tathir" :

﴾ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّـهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا﴿

"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya"


Siapa Yang Dimaksud Ahlul Bait Dalam Ayat Itu?

Terdapat hadis yang menjelaskan Asbabun Nuzul Ayat Tathir. Hadis ini memiliki derajat sahih, dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Al Tirmidzi, Al Bazzar, Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, Al Hakim, Ath Thabrani, Al Baihaqi dan Al Hafiz Al Hiskani. 

Berikut adalah hadis riwayat Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi :

Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya".(QS Al Ahzab 33).

Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah, lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Siti Fathimah, Hasan dan Husain, lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW. Beliau SAW pun menutupinya dengan kain.

Kemudian Beliau bersabda ”Allahumma ( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.

Ummu Salamah berkata,”Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? Beliau bersabda “engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871).

Jadi jelaslah, bahwa yang dapat memahami dan menyentuh hakikat Al Quran sebenar-benarnya adalah Nabi Muhammad saww dan ahlul baitnya yang disucikan.