"Bulan suci MUHARAM kembali tiba, bulan duka keluarga Nabi Muhammad saw".

Kupersembahkan tulisan ini sebagai tanda duka cita untuk keluarga Rasulullah saw dan para pengikut Ahlulbait as.

Dan khususnya, untuk Imam Zaman al-Mahdi afs. Semoga beliau ridha hamba yang hina ini menjadi pengikut beiiau.

Melawan fitnah, melawan pemutar balikkan fakta tentang "ASYURO"

"MELAWAN LUPA", mengenang terjadinya tragedi Asyuro, 10 Muharam. Mengapakah sampai terjadi ?




Untuk menyegarkan ingatan kita, kami rangkum kembali berbagai riwayat dari berbagai rujukan Sunni ataupun Syiah, bagaimana sampai terjadi "Tragedi Asyuro" yang menimpa cucu tercinta Nabi Muhammad saw di Karbala.

Tulisan ini semata-mata untuk menepis kesalahan pandangan sebagian golongan yang mengaku muslim, terhadap kelompok Syiah, para pecinta keluarga Nabi saw yang selalu mengenang dan merasakan kepedihan luar biasa atas "tragedi Asyuro".

Berbagai macam fitnah dan tuduhan kasar selalu muncul jika berkaitan dengan peristiwa Asyuro.

Bahkan sampai tuduhan bahwa yang membunuh Imam Husein as adalah Syiah.

Fitnah lainnya bahwa tanggal 10 Muharam, adalah hari kematian Fir'aun yang tenggelam di laut ketika mengejar Nabi Musa as. Jadi Kaum Syiah menangisi kematian Fir'aun.

Sesungguhnya, dari riwayat Ibnu Abbas, bahwa tanggal 10 Muharam itu adalah hari pertemuan antara Nabi Musa as dengan Fir'aun bersama para ahli sihirnya untuk beradu sihir, di kota Iskandariyah, bukan hari tenggelamnya Fir'aun.

Sedangkan hari tenggelamnya Fir'aun terjadi pada hari kelima bulan Muharram (5 Muharam) ketika Musa as membelah lautan dan melewatinya bersama bani Israil. Di hari itu Fir'aun bersama pasukannya ditenggelamkan. 

Sementara di Karbala, 5 Muharram tahun 61 Hijriah, adalah saat pasukan musuh berkumpul dan jumlah mereka lengkap untuk memerangi Aba Abdillah al-Husein as bersama keluarga dan sahabatnya. 

Tulisan ini juga sebagai klarifikasi terhadap fitnah-fitnah tersebut.

Mengapa Sampai Terjadi Tragedi Asyuro ?


Hanya dalam kurun waktu 50 tahun setelah Nabi saw wafat, terjadi pembantaian keji terhadap cucunda tersayang beliau, Imam Husein as beserta keturunan Nabi saw lainnya di Karbala oleh Umat Islam, kenapa hal ini bisa terjadi ?

Ternyata kondisi umat Islam yang terpecah setelah wafat Rasul saw telah menyebabkan merebaknya kemungkaran dan penyimpangan ajaran Rasulullah saw.

Kondisi inilah yang memicu dan menyulut api kedurjanaan dalam tragedi terkeji sepanjang sejarah umat manusia, yaitu "Tragedi Asyuro" di Karbala.

Pasca wafat Nabi saw, Imam Ali bin Abi Thalib as tidak bisa melawan penghianatan mayoritas Quraisy yang menentang wasiat Nabi saw, tentang penunjukkan beliau sebagai penerus kepemimpinan umat sepeninggal Nabi saw. 

Imam Ali as tidak bisa melawan para perampas hak atas jabatan kekhalifahannya, karena sedikitnya pendukung. 

Begitu juga ketika beliau as menjadi khalifah ke 4, sampai saat kesyahidannya, beliau belum berhasil memperbaiki kerusakan umat karena terpecah-belahnya pengikut beliau dan merebaknya bid'ah-bid'ah yang merusak ajaran Rasulullah saw dalam masyarakat. 

Kita lihat Imam Hasan as, yang syahid diracun Muawiyah ketika menggantikan Imam Ali as, itu juga karena sedikitnya penolong akibat penghianatan sahabat dan pengikutnya.

Di zaman Imam Husein as, kerusakan yang menimpa umat Islam semakin merebak di semua lapisan masyarakat akibat perilaku teror penguasa Yazid bin Muawiyah yang fasik, sehingga para tokoh agama dan tokoh masyarakat memilih membisu melihat kemungkaran yang merajalela karena takut kepada penguasa dzolim Bani Umayah. 

Mayoritas ulama dan tokoh masyarakat seperti Abdullah bin Umar bin Khattab ( Ibnu Umar) memilih tutup mata demi keamanan harta dan keluarga mereka dengan membai'at Yazid.

Kondisi inilah yang menyulut terjadinya tragedi yang menimpa Imam Husein as bersama keluarga dan keturunan Nabi saw di Karbala,  karena sedikitnya penolong akibat diamnya mayoritas umat.

Imam Husein as memilih terbunuh demi kebenaran menegakkan Islam yang dibawa kakeknya Muhammad saw daripada berbai'at kepada Yazid bin Muawiyah.

---------------------------

"Tragedi Asyuro" yang terjadi pada 10 Muharam tahun 61 Hijriah menyentak nurani setiap hati manusia beradab. 

"Asyuro", memunculkan pesan tentang nilai-nilai universal kemanusiaan sepanjang masa. 

Semangat Asyuro menjadi inspirasi pembela kemanusiaan di seluruh dunia, untuk bangkit melawan kedzoliman dan ketidak-adilan para penguasa tiran.

"Kullu yaumin asyuro, kullu ardin Karbala", setiap hari adalah asyuro, setiap tempat adalah Karbala.

Peristiwa biadab pembantaian cucu tercinta Nabi Muhammad saw dan keluarga beserta sahabat setianya oleh pasukan Yazid di Karbala membuat langit runtuh memerah dan seluruh penghuninya menangisi tragedi tersebut.

Dalam tragedi memilukan tersebut tergambar secara kasat mata dua karakter yang mewakili umat manusia, yaitu "karakter ilahiah" kelompok Imam Husain as yang terdzolimi dan lainnya adalah "karakter angkara murka (Iblis)" yaitu kelompok Yazid, pembantai Imam Husein as. 

Dua karakter manusia tersebut menggambarkan dua poros utama perseteruan abadi umat manusia sepanjang masa antara poros "Kebenaran (pengikut kenabian)" melawan poros "Kebatilan (pengikut Iblis)".

Pilihan sikap setiap orang dalam menyikapi peristiwa tragis "Asyuro" menjadi cermin kualitas manusia itu sendiri.

Sadar atau tidak setiap manusia akan masuk ke dalam dua golongan tersebut,  golongan "pengikut Kenabian" atau golongan "pengikut Iblis", hanya gradasinya yang berbeda.

Jadi silahkan intropeksi diri kita, apakah kita ikut berduka dan bersedih atas peristiwa tersebut ?

Ataukah kita tidak peduli dan tidak merasa tersentuh dengan duka keluarga Nabi kita saw ? 

Atau bahkan kita malah mencemooh dan mengolok-olok peristiwa tragis tersebut ? Atau menghujat dan mengkafirkan orang-orang yang memperingati hari duka tersebut ?

Atau kita memilih diam seribu bahasa, membisu melihat kedzoliman yang menimpa keluarga Nabi kita Muhammad saw, dengan dalih hanya sebagai catatan sejarah masa lalu ? 

Tapi ingatlah bahwa sikap diamnya seseorang atas kedzoliman yang terjadi, sama saja dengan meridhoi terjadinya kedzoliman tersebut.

Alam semesta ini adalah arena pertarungan dari permusuhan abadi antara dua golongan manusia tersebut sejak awal penciptaan sampai hari kiamat nanti.

Di zaman penciptaan Nabi Adam as, sudah terjadi permusuhan antara Adam dengan Iblis. 

Di zaman berikutnya muncul perseteruan pertama di kalangan manusia keturunan Adam yaitu antara Habil mewakili karakter "pengikut Kebenaran" dengan Qabil sebagai wujud karakter "pengikut Iblis".

Di zaman Nabi Nuh as, bahkan isteri dan anak beliau sendiri berdiri sebagai musuh menjadi pengikut Iblis.

Di zaman Nabi Luth as juga, isteri beliau menjadi musuh.

Di zaman Nabi Musa as, pertarungan tidak hanya terjadi antara Nabi Musa as melawan Fir'aun, tetapi juga setelahnya, yaitu antara Nabi Harun as melawan Samiri, sahabat Musa as yang membuat patung anak sapi untuk disembah umat, ketika Musa as sedang bermunajat kepada Allah selama 40 hari. 

Nabi Harun as sebagai washi (penerima wasiat) Nabi Musa as tidak bisa melarang penyimpangan kelompok Samiri ini karena diancam dibunuh.
 
Begitu kenyatannya sebagaimana tertulis dalam Al-Qur'an, bahwa pada setiap masa kenabian, pasti akan ada orang-orang yang memusuhi para Nabi, yaitu para penentang kenabian yang menjadi pengikut Iblis. Dan musuh-musuh para Nabi adalah orang-orang dekat yang ada di sekitar Nabi. 

Dalam Al-Qur'an juga disebutkan bahwa umat manusia dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan kanan dan kiri. "Golongan kanan" berisi manusia-manusia mulia, pengikut kebenaran. Sedangkan "golongan kiri" berisi manusia-manusia pengikut kebatilan, golongan manusia pengingkar ayat-ayat Allah swt.

Allah SWT berfirman :

فَاَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ  ۙ  مَاۤ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ   
"fa ash-haabul-maimanati maaa ash-haabul-maimanah"

"yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu,"
(QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 8)

وَاَصْحٰبُ الْمَشْئَـمَةِ  ۙ  مَاۤ اَصْحٰبُ الْمَشْئَـمَةِ 
"wa ash-haabul-masy`amati maaa ash-haabul-masy`amah"

"dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu,"
(QS. Al-Waqi'ah 56: Ayat 9).

اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِ  
"ulaaa`ika ash-haabul-maimanah"

"Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan."
(QS. Al-Balad 90: Ayat 18).

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِنَا هُمْ اَصْحٰبُ الْمَشْئَـمَةِ  
"wallaziina kafaruu bi`aayaatinaa hum ash-haabul-masy`amah"

"Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri."
عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ
'alaihim naarum mu`shodah"

"Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat."
(QS. Al-Balad 90: Ayat 19-20).

Bagaimana sampai manusia bisa menjadi golongan kiri yang menyimpang sementara semua manusia diciptakan-Nya dari bahan yang sama yaitu dari setetes nuftah (mani) ? Bukankah Allah juga telah menurunkan petunjuk sebagai penuntun menuju jalan lurus melalui para utusan-Nya ?

Tidak semua manusia bisa mengenal kebenaran yang ada disekitarnya sebagai sebuah kebenaran. Mereka yang batinnya sakit akibat pengaruh kemewahan duniawi yang sudah merasuki jiwanya, tidak bisa menerima kebenaran sebagai sebuah kebenaran, bahkan kebenaran dianggapnya sebagai kebatilan.

------------------------------------

Peristiwa Asyuro menggambarkan dengan nyata makna firman Allah swt Surat At-Tin (95) ayat 4-5 :

Ayat 4 :
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
"laqod kholaqnal-insaana fiii ahsani taqwiim"

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,"

Ayat 5 :
ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَ 
"summa rodadnaahu asfala saafiliin"

"kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya,"

Dan firman Allah SWT :
(QS. Al-Furqan 25 : Ayat 44).

اَمْ تَحْسَبُ اَنَّ اَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ اَوْ يَعْقِلُوْنَ   ۗ  اِنْ هُمْ اِلَّا كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ سَبِيْلًا

"am tahsabu anna aksarohum yasma'uuna au ya'qiluun, in hum illaa kal-an'aami bal hum adhollu sabiilaa"

"Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya."

Manusia diciptakan Allah swt sebagai sebaik-baik makhluk. Tapi akibat nafsu angkara murka, manusia bisa jatuh ke jurang kehinaan dan menjadi makhluk yang rendah serendah-rendahnya.

Para pembunuh Imam Husein as di Karbala adalah mereka-mereka yang mengenal beliau as dan sebelumnya merupakan muslim yang taat beribadah.

Tetapi di akhir kehidupan mereka terjerumus dari "fitrah sebaik-baik makhluk ciptaan Allah" menjadi seburuk-buruk makhluk bahkan lebih rendah dari binatang ternak. 

Umar bin Sa'ad pemimpin pasukan Yazid, mengenal dengan baik siapa Imam Husein as sejak di Madinah, Umar bin Sa'ad adalah anak dari Sa'ad bin Abi Waqqas, seorang sahabat besar Nabi saw dan Imam Ali as.

Syimir dzil Jausan, pemenggal kepala Imam Husein as adalah ahli ibadah pengikut Imam Ali as di perang Siffin. Tetapi di akhir hayat mereka semua berubah perilaku menjadi "karakter iblis", semua keutamaan dan ibadah mereka itu sia-sia tidak ada artinya.

Dan dalam pasukan Umar bin Sa'ad juga terdapat ribuan orang Kufah yang awalnya adalah pengikut (syiah) Imam Husein as yang dengan sadar ataupun terpaksa membelot menjadi musuh Imam Husein as akibat dipaksa keadaan, tergiur iming-iming harta atau takut dibunuh tentara Yazid jika tidak ikut bergabung. 

Hati mereka bersama Imam Husein as tapi pedang-pedang mereka bersama Yazid terhunus kepada Imam Husein as.

Ketika peristiwa Asyuro berakhir, para penghianat ini sangat merasa terpukul dan tersiksa batinnya. Penyesalan menghantui mereka sehingga kemudian muncul gerakan penyesalan massal para pembelot ini yang terkenal dengan gerakan kelompok "Tawabbun".

Mereka ini akhirnya menjadi kelompok perlawanan masyarakat Kufah yang kemudian bergabung bersama pasukan Muchtar Tsaqafi melakukan perlawanan kepada Bani Umayah untuk membalas dendam atas pembunuhan Imam Husein as. 

Mereka mengejar tokoh-tokoh pembantai Imam Husein seperti Ibnu Ziyad, Umar bin Sa'ad, Syimir, Harmalah dan lainnya, sampai terbunuhnya mereka.

Kondisi inilah yang kadangkala sering dijadikan senjata para musuh Syiah untuk memfitnah  Syiah bahwa pembunuh Imam Husein as adalah para pengikut Syiah sendiri.

Sementara itu, di pihak Imam Husein as, para sahabat dan pengikut Imam Husein as justru menggambarkan representasi kelompok karakter "manusia ilahiah" yang memegang komitmen kuat terhadap nilai kemanusiaan, ketaatan, kesetiaan, persahabatan, pengabdian dan kecintaan kepada pemimpin, keyakinan kepada kebenaran, semua itu ditunjukkan secara gamblang oleh para sahabat dan pengikut Imam Husein as.

Kita lihat, di malam Asyuro, malam ke 10 Muharam, dalam kegelapan malam yang mencekam, setelah sebelumnya terdengar alunan kalam ilahi, Imam Husein as untuk terakhir kali mengumpulkan seluruh sahabat dan pengikutnya.

Dalam kegelapan malam itu, Imam Husein as berkata kepada para pengikutnya, " Wahai para pengikut setiaku, besok adalah hari terakhir kita bisa berkumpul, besok  kematian akan menjemput kita semua". Yang mereka cari adalah diriku, kematianku, mereka tidak memburu kalian". 

"Aku ridho jika kalian meninggalkan aku malam ini, telah kulepaskan bai'at kalian agar bisa pergi dariku dalam kegelapan malam ini. Bawalah sanak saudara kalian dan kembalilah ke keluarga kalian, aku ridho".

Apa jawaban mereka, para pengikut Imam Husein as ? Mereka semua menolak untuk meninggalkan Imam mereka. 

"Bagamana aku akan menjumpai datukmu Rasulullah kelak jika aku meninggalkanmu ya Imam ? Mau ditaruh dimana mukaku dihadapan Rasulullah ya Imam ? Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian".

"Seandainya besok aku mati dicincang pedang dan dihidupkan kembali sampai 70 kali, aku tetap akan bersamamu".

Mereka tetap teguh memilih berjalan bersama Imam Husein as menjemput syahada, mereka memilih menjadi manusia pembela kebenaran, pembela kenabian, mereka memilih menjadi kelompok kanan seperti yang disebutkan dalam firman Allah dalam Al-Qur'an.

Maka ketentuan Allah swt pun terjadilah. Alam semesta menjadi saksi pembantaian yang menimpa 72 orang "pengikut kenabian" (18 orang diantaranya sanak saudara Imam Husein as, keturunan Rasulullah saw) oleh kelompok karakter "pengikut iblis", di padang Karbala 10 Muharam tahun 61 H. 

Tidak hanya sampai disitu, para "pengikut iblis" menyempurnakan kebengisannya dengan memenggal seluruh kepala para syuhada dan menancapkannya diujung-ujung tombak. 

Kemudian mereka mengarak kepala-kepala tersebut sepanjang perjalanan bersama 11 orang sisa keluarga Imam Husein as keturunan Rasulullah saw yang terdiri dari wanita dan anak-anak sebagai tawanan. 

Sungguh peristiwa paling tragis dan memilukan, mencoreng peradaban manusia sepanjang sejarah dunia. 

Keluarga suci Nabi Muhammad saw dipermalukan dan dihinakan serendah-rendahnya sepanjang perjalanan ribuan km selama 22 hari dari Karbala ke Kufah lalu ke istana Yazid di Damaskus di Syam oleh orang-orang Islam yang mengaku sebagai umat Muhammad.

--------------------------------------

Membahas Asyuro, kita harus menyisir ulang sejarah dari awal perkembangan Islam sejak zaman Nabi saw.

Telah kita ketahui bahwa tragedi Asyuro tidak terjadi begitu saja secara spontan. Ada rangkaian peristiwa panjang yang menjadi latar belakang yaitu kerusakan masif yang menimpa ajaran Islam yang dibawa Nabi saw pasca wafat beliau saw pada 28 Safar 11 H. 

Kita tidak bisa bayangkan kenapa tragedi besar ini terjadi pada kurun waktu yang belum berselang lama setelah Nabi saw wafat, hanya 50 tahun ? Apa yang terjadi dengan Islam di masa itu ?

Apakah umat Islam sudah melupakan Nabi mereka Muhammad Saw, pembawa risalah Islam yang agung itu, sehingga sampai terjadi tragedi pembantaian cucunda tersayang bersama keturunan Nabi yang lainnya ?

Bagaimana bisa orang-orang yang mengaku umat Nabi Muhammad mampu berbuat sekeji itu terhadap cucu kesayangan Nabi saw yang beliau sebut sebagai pemimpin pemuda surga ? 

Semua itu tidak mungkin terjadi jika Islam dilaksanakan dengan benar sesuai ajaran Nabi saw oleh masyarakatnya. 

Artinya bahwa sesungguhnya telah terjadi distorsi ajaran Islam dalam masyarakat sepeninggal Nabi ketika umat yang didominasi suku Quraisy mayoritas menolak kepemimpinan yang diwasiatkan oleh beliau saw yaitu Ali bin Abi Thalib as.

Kalau kita cermati, sepanjang periode kekuasaan tiga kalifah pasca Nabi, telah terjadi banyak penyimpangan yang merusak ajaran Islam dan sunnah Nabi saw, akibat kepemimpinan dipegang penguasa yang bukan pewaris ilmu Nabi saw. 

Imam Ali as sebagai tokoh Bani Hasyim pewaris ilmu Nabi saw,  dikucilkan oleh masyarakat pasca wafat Nabi saw dan tidak berdaya menghadapinya.

Mari kita simak sabda Imam Ali as :

"Aneh ! Mereka melihat Sunnah Nabi mereka bertukar dan berubah sedikit demi sedikit, bab demi bab, kemudian mereka meridhoinya tanpa sembarang penentangan".

"Malah mereka mempertahankan- nya pula. Mereka mencela orang yang mengkritik dan mengingkari -nya. Kemudian kaum yang datang selepas kita akan mengikuti bid'ah-bid'ah tersebut sebagai sunnah Rasulullah saw".

Di zaman kekalifahannya, Imam Ali mewarisi kondisi masyarakat yang telah jauh menyimpang dari ajaran Nabi saw. Imam Ali as juga disibukkan oleh pembangkangan sekelompok sahabat. 

Upaya beliau meluruskan bid'ah-bid'ah yang merusak ajaran Islam juga tidak berjalan mulus, banyak mendapat penentangan. 

Seperti kita ketahui, masyarakat Islam yang hidup di masa kekhalifahan Imam Ali as adalah mayoritas keturunan orang-orang kafir Quraisy yang terpaksa masuk Islam ketika penaklukkan Mekah "Futhu Makkah" pada tahun 8 H.

Mayoritas mereka adalah keturunan tokoh kafir Quraisy yang tewas dibunuh Imam Ali as dalam periode peperangan dengan kaum muslimin. 

Dendam turun temurun kepada Imam Ali as ini tidak pernah surut dan mereka lampiaskan selepas wafat Nabi saw. Faktor dendam dan kebencian inilah penyebab  mayoritas Quraisy menolak Ali as jadi kalifah pasca wafat Nabi saw.

Sedangkan di Syam sana, bercokol Gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan musuh keluarga Nabi saw, yang membangkang menolak membai'at Imam Ali as. 

Dengan kekuasaan dan harta berlimpah sebagai Gubernur Syam, Muawiyah menjadi tempat pelarian banyak pejabat korup yang takut ditangkap oleh Imam Ali as. Baitul Mal, harta kaum muslimin dijadikan sebagai harta milik pribadi keluarga Bani Umayah.

Melalui para ulama pendukungnya, dengan imbalan dinar melimpah  Muawiyah memerintahkan penulisan ribuan hadis palsu untuk  menghilangkan hak-hak dan keutamaan Ahlulbait Nabi saw di kalangan umat Islam. 

Hadis-hadis palsu tersebut tersebar ke seluruh penjuru negeri Islam, menjadikan masyarakat asing dengan Ahlulbait Nabi saw. 

Masyarakat Islam di Syam dibodohi oleh Bani Umayah yang mengaku bahwa Ahlulbait Nabi adalah Abu Sufyan dan keturunannya. 

Imam Ali as adalah kafir dan dilaknat di mimbar-mimbar mesjid selama sekitar 70 tahunan di seluruh penjuru negeri.

Keterasingan umat terhadap Ahlulbait berlanjut secara turun temurun ke generasi penerus umat Islam sampai masa kini, karena mayoritas otoritas umat Islam merupakan kepanjangan pengikut Bani Umayah atau Usmaniyah.

Dalam masa kekhalifahan Imam Ali as yang singkat itu terjadi tiga kali pemberontakan yang melibatkan para sahabat Nabi saw :

Pertama : Perang Jamal, pemberontakan isteri Nabi saw Aisyah binti Abu Bakar yang didukung sahabat Nabi Thalhah dan Zubair disokong oleh Bani Umayah akibat kebenciannya kepada Imam Ali as.

Kedua : Perang Siffin, pemberontakan Muawiyah yang didukung Amr bin Ash.

Ketiga : Perang Nahrawan, pemberontakan kaum Kawarij.

Kebenaran seolah telah menjadi samar oleh kotornya hati yang sudah tergerus nafsu duniawi. Banyak para sahabat yang telah dibutakan mata hatinya oleh kepalsuan duniawi.

Keraguanpun melanda para sahabat dan pengikut Imam Ali as, manakah yang harus diikuti antara dua pihak yang berperang itu ?

Dalam perang Jamal, dipihak pemberontak ada Ummul Mukminin Aisyah dan sahabat Thalhah dan Zubair.

Menanggapi keraguan para pengikutnya, Imam Ali as berkata :

أن دين الله لا يعرف بالرجال بل بآية الحق فاعرف الحق تعرف اهله

"Sesungguhnya agama Allah tidak akan bisa dikenali dari pribadi-pribadi, tetapi akan dapat dikenali dari tanda-tanda kebenarannya. Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengetahui siapa  penganut kebenaran."
(Biharul Anwar 68/120)

Nabi saw juga pernah bersabda : "Setelah kematianku, Aku tidak khawatir kalian akan jatuh dalam kemusyrikan, tapi aku takut kalian saling berebut dunia satu sama lain". 

Apa telah yang diprediksi oleh Nabi saw tentang perilaku para sahabat sepeninggal beliau bisa kita simak dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ja'far Shodiq as :

Imam Shodiq as meriwayatkan dari leluhur-leluhur beliau as bahwa, Rasul saw bersabda, "Semua yang terjadi pada umat-umat terdahulu tentunya akan terjadi pada umat ini dengan cara yang sepenuhnya identik dan persis sama". (Kamal ad-Din).

Nabi saw bersabda : "Sesungguhnya kamu akan mengikuti adat istiadat orang-orang sebelum kamu, dengan cara yang sepenuhnya identik dan sama, kamu tidak akan menyimpang dari jalan mereka, kamu akan meniru mereka dengan persis (dengan setiap cara yang dapat dibayang kan) jengkal demi jengkal, tangan demi tangan, lengan demi lengan, sedemikian rupa sehingga jika seorang dari umat terdahulu memasuki sarang iguana (biawak) maka kamupun akan memasukinya". 

Mereka bertanya : "Apakah maksud Anda mereka adalah kaum Yahudi dan Kristiani, wahai Rasulullah ?"

Beliau saw bersabda : "Siapa lagi yang aku maksud ?" Tentu saja kamu akan mengurai tali Islam untai demi untai. 

Hal pertama yang akan kamu hancurkan dari agamamu adalah yang berupa "sifat dapat dipercaya" dan yang terakhirnya adalah "shalat". (At-Tafsir, Al-Qummi).

At-Tirmidzi meriwayatkan Nabi saw bersabda, "Demi Dia yang ditangan-Nya jiwaku berada, sesungguhnya kamu akan mengikuti adat istiadat orang-orang sebelum kamu"

Dalam riwayat lain ada tambahan, "Dengan cara yang sepenuhnya identik dan persis sama, sedemikian rupa  sehingga jika ada diantara mereka seseorang yang hidup bersama sebagai suami isteri dengan ibunya sendiri, maka seseorang diantara kamu juga akan melakukan demikian. Tetapi aku tidak tahu apakah kamu akan menyembah anak lembu atau tidak".

Apa maksud dari hadis Nabi saw tersebut ? Nabi saw bermaksud menjelaskan peristiwa yang akan terjadi yang menimpa umatnya sebagaimana mereka mengikuti perilaku umat terdahulu. 

Terutama yang menimpa Imam Ali as sepeninggal Nabi saw, adalah identik sebagaimana yang telah menimpa Nabi Harun as di tengah umat Yahudi sepeninggal Musa dahulu.

Sebagaimana Nabi Harun As tatkala melihat kaum Musa (dipimpin oleh Samiri, tokoh Yahudi sahabat Musa as dan Harun as) berpaling menjadi penyembah sapi, ketika umat ditinggal Musa yang bermunajat kepada Allah selama 40 hari, Nabi Harun as tidak bisa melarang meski beliau adalah seorang fasih yang merupakan washi (penyampai wasiat) Nabi Musa As. 

Nabi Harun as tetap menyampaikan kebenaran dan peringatan kepada mereka secara santun. Kalau Harun as melakukan cara kekerasan maka beliau as sudah dibunuh mereka.

Hal inilah yang menimpa Imam Ali as sepeninggal Nabi saw wafat, hak kekhalifahan diambil alih dan beliau tidak mampu melawan karena terancam dibunuh. Beliau as dan anggota Bani Hasyim dikucikan dari pemerintahan dan masyarakat. 

Sampai tiba saat kesyahidannya di tahun 41 H, Imam Ali as belum berhasil memperbaiki dan meluruskan kembali kerusakan ajaran Islam dalam masyarakat, kecuali sedikit saja dari para pengikut setianya.

--------------------------------

Dalam kondisi kerusakan masif menimpa masyarakat Islam yang demikian, Imam Husein as berusaha mengembalikan ajaran Islam yang asli yang dibawa datuknya Muhammad Rasulullah saw.

Ketika Yazid bin Muawiyah yang fasik dibai'at menjadi kalifah menggantikan Muawiyah, dia langsung memaksa Imam Husein as untuk berbai'at dengan ancaman pembunuhan jika menolak, tetapi Imam Husein as tetap menolak berbai'at.

Imam Husein as berkata : "Jika orang seperti aku ini berbai'at kepada manusia fasik semacam Yazid, maka ucapkan selamat tinggal Islam, Islam yang dibangun oleh kakekku Muhammad dengan keringat dan darah akan hilang dari muka bumi ini. Lebih baik mati mulia daripada hidup dalam kehinaan dengan membai'at Yazid".

"Jika diriku harus terbunuh menjadi tumbal demi tegaknya Islam Muhammad, maka wahai pedang-pedang inilah aku, cincang-cincanglah aku".

Imam Husein as tahu bahwa beliau akan dibunuh, karena itu beliau memilih pergi meninggalkan Madinah menuju Mekah bersama seluruh keluarga dan pengikutnya. 

Di bulan Zulhijah Imam Husein as berangkat dari Mekah ke Karbala  saat umat Islam melaksakan wukuf di Arafah menghindari rencana pembunuhan oleh Yazid di Baitullah. 

Imam Husein as sengaja  menyongsong kesyahidan dalam melawan Yazid di Karbala karena Imam Husein as tidak mau mengotori kota Madinah dan Mekah dengan darahnya.

Imam Husain as berkata :
"Wahai manusia! Rasulullah saw bersabda : "Barangsiapa yg melihat pemimpin zalim, menghalalkan apa yg diharamkan Allah, menyeleweng dari ajaran-Nya, menentang sunnah Rasulullah saw, serta berbuat dosa dan pelanggaran terhadap hamba-hamba Allah, kemudian tidak dirubah atau ditentang baik dengan perbuatan atau ucapan, maka Allah SWT berhak untuk mencampakkan nya ke tempat (yg telah disediakan untuk) nya."'
(Maqtal Khawarizmi 1/234)

Beliau as juga berkata :
"Aku tidak keluar (ke Karbala) untuk kejelekan atau kesia-siaan atau kerusakan atau sebagai orang yg zalim. Akan tetapi aku keluar untuk memperbaiki umat kakekku Muhammad saw". 

"Aku berkehendak menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar serta berjalan di jalan kakekku Muhammad dan di jalan ayahku Ali bin Abi Thalib."
(Maqtal Khawarizmi 1/188)

Dari ucapan2 Imam Husain as diatas, maka sudah jelas sekali bahwa beliau as telah melakukan apa yang telah Allah perintahkan dalam surat An-Nisa' ayat 100 dengan berhijrah untuk bara'ah atas kekafiran dan kezaliman.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً   ۗ  وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ  ۗ  وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

"wa may yuhaajir fii sabiilillaahi yajid fil-ardhi murooghomang kasiirow wa sa'ah, wa may yakhruj mim baitihii muhaajiron ilallohi wa rosuulihii summa yudrik-hul-mautu fa qod waqo'a ajruhuu 'alalloh, wa kaanallohu ghofuuror rohiimaa"

"Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di Bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpa nya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 100).

-------------------------------------

Tragedi Asyuro pun terjadilah sebagai ketetapan Allah swt dan ditulis dalam sejarah sehingga akhirnya sampai ke tangan kita setelah ribuan tahun berlalu.

Sungguh merupakan sebuah mujizat, ketika kekuatan angkara murka Yazid bin Muawiyah berusaha membungkam dan menutupi aib peristiwa Asyuro dari masyarakat luas, yang terjadi malah semakin besar gaungnya menerobos batas negeri menyebar ke seluruh penjuru dunia.

"Ternyata Allah Swt menyiapkan sosok saksi mata yang mengalami langsung penderitaan rombongan keluarga Nabi saw". 

-------------------------------

Dialah seorang wanita orator ulung sebagai juru bicara yang berorasi di sepanjang perjalanan sampai tiba di istana Yazid, membuka kedok kebusukan Yazid dimata umat Islam di Syam yang menyambut kedatangan tawanan perang pemberontak.

Dialah srikandi Karbala, Zainab binti Ali bin Abi Thalib. Zainab menjadi pelindung, pengasuh yang melayani para aggota rombongan tawanan keluarga Nabi saw di sepanjang perjalanan sambil menerima siksaan dari para pasukan pengawal.

Diantara tawanan lelaki yang tersisa dari putra Imam Husein as adalah Imam Ali bin Husain Zainal Abidin as dan putranya yg masih kecil Muhammad bin Ali Al Baqir. 

Zainab binti Ali bin Abi Thalib bersama Imam Ali bin Husein Zainal Abidin as dengan kefasihan lisan ayah dan kakeknya Ali bin Abi Thalib mengagetkan semua yang hadir ketika berorasi di mimbar istana dihadapan Yazid bin Muawiyah, membongkar kebiadaban Yazid terhadap mereka keluarga Nabi saw, di saat Yazid bersama jajaran petinggi Bani Umayah berpesta pora merayakan kemenangan atas kematian Imam Husein as. 

Tanpa ada kesaksian Zainab dan Ali Zainal Abidin, bisa dipastikan "tragedi Asyuro" akan terkubur ditelan waktu dibawah upaya masif otoritas umat yang berkuasa untuk menghilangkan jejak-jejak Ahlulbait Rasulullah saw. 

Artinya Islam Muhamnad yang diajarkan oleh para Imam Ahlulbait as akan terhapus di muka bumi ini, umat Islam tidak akan ada yang mengenal lagi Ahlulbait Rasulullah saw, dan sebagai gantinya yang ada adalah Islam Bani Umayah, Islam teror yang menyimpang dan menghancurkan ruh ajaran Islam Muhammad.

Bahkan sampai sekarang upaya masif dari kelompok musuh Ahlulbait as untuk menguburkan dan menghilangkan "tragedi Asyuro" dari memori umat Islam masih terjadi di masyarakat muslim di seluruh dunia.

----------------------------------------
Inilah sepenggal orasi Zainab yang menjungkir-balikkan kesombongan dan kebanggaan Yazid bin Muawiyah di istananya sendiri
---------------------------------------

Di hadapan Yazid, yang duduk di singgasana dengan pongah sambil menusuk-nusukkan tongkat penuh penghinaan ke kepala Imam Husein as, Zainab binti Ali bin Abi Thalib berdiri dan berteriak lantang :

"Hai Yazid, andaikan engkau mampu sempitkan bumi dengan langit dan menjadikan kami sebagai tawananmu, kau seret kami menghadapmu dengan rantai besi yang panjang, lalu kau kira telah berkuasa atas kami ? 

Kau kira Allah menghinakan kami dan memuliakanmu ? Kau kira itulah kebesaran dan kemuliaanmu ? Kau bangga diri, sombong dan bergembira karena menyangka dunia ini tunduk dihadapanmu dan semua urusan menjadi mudah bagimu.

"Jangan sombong dengan kebodohanmu. Tahukah engkau, Allah Swt berfirman : 

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِّاَنْفُسِهِمْ ۗ  اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْۤا اِثْمًا  ۚ  وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ

"wa laa yahsabannallaziina kafaruuu annamaa numlii lahum khoirul li`anfusihim, innamaa numlii lahum liyazdaaduuu ismaa, wa lahum 'azaabum muhiin"

"Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 178).

"Adilkah hai anak orang yang masuk Islam karena kalah perang, ketika kau busanai selir-selir dan budak-budak perempuanmu, sementara kau seret putri-putri Rasulullah sebagai tawanan dan merenggut hijab mereka hingga kau pamerkan wajah-wajah mereka ?"

"Mereka kau giring melewati satu negeri ke negeri lain menjadi tontonan di jalanan. Wajah-wajah mereka dipandangi oleh semua orang sepanjang jalan. 

Mereka tidak mempunyai lelaki pelindung dan penolong. Itu semua akibat penentangan kerasmu kepada Allah dan pengingkaranmu kepada Rasulullah, engkau tolak semua ketetapan Allah".

Tidak mengherankan jika engkau lakukan semua kebiadaban itu. Bagaimana mungkin seorang keturunan pemakan jantung syuhada merasa takut kepada Allah. Bukankah dagingmu tumbuh dengan ceceran darah manusia mulia para syuhada ?

Bukankah engkau dan nenek moyangmu adalah pengobar perang dan mengumpulkan bala tentara untuk membunuh penghulu para Nabi ? 

Engkaulah orang paling ingkar di antara seluruh orang Arab. Engkaulah yang paling keras memusuhi Rasul-Nya karena sejak awal kalian kafir dan dzalim.

Ketahuilah semua perangai dan kebiadabanmu adalah buah dari sifat kafir dan dendam kesumat karena nenek moyang kamu tewas dalam perang Badar. 

Karenanya, orang yang menentang kami Ahlulbait dengan kebencian dan amarah, pasti membenci kami, menolak Rasulullah terang-terangan, mengungkapkannya dengan lidahnya seraya berkata bangga karena berhasil membantai putranya, menawan keluarganya tanpa merasa dosa.

Karena itu kau seru nenek moyangmu seraya berkata : "Berbanggalah kalian dan katakanlah kepadaku : "Hai Yazid, jangan pernah berhenti", sambil kau pukul-pukul gigi-gigi Al-Husein di depanmu. Wajahmu berbinar-binar saat kau pukul dengan tongkatmu mulut yang paling sering dicium Rasulullah saw".

Kau cabut pohon dan akar risalah dengan membunuh penghulu para pemuda surga, putra pemimpin agama, matahari keluarga Abdul Muthalib". Kemudian engkau panggil-panggil nenek moyangmu dan mengagungkan leluhurmu yang kafir.

Tapi saatnya sudah dekat untukmu. Saat itu engkau berharap tangan dan sikumu lumpuh dan terpotong. Saat itu engkau lebih nemilih bahwa ibumu tidak mengandung dan tidak melahirkanmu, karena saat itu engkau berhadapan dengan murka Allah dan penuntutmu adalah Rasulullah saw.

Ya Allah, peliharalah hak kami, balaslah orang yang medzolimi kami, tumpahkanlah murka-Mu kepada orang yang telah menumpahkan darah kami dan melecehkankan kehormatan kami, membunuh pelindung kami dan merobek hijab kami.

Hai Yazid, telah kau laksanakan niatmu. Ketahuilah engkau tidak mengupas kecuali kulitmu sendiri, engkau tidak mencincang kecuali dagingmu sendiri.

Rasakanlah, engkau akan menemui Rasulullah berlumur darah keluarganya yang telah engkau tumpahkan dan kehormatan mereka yang telah engkau hinakan.

Di sanalah kami Ahlulbait akan berkumpul, kami yang tercerai- berai akan menyatu dan membalas orang-orang yang mendzolimi kami, lalu mengambil hak-hak kami dari musuh-musuh kami.

Bagimu cukup Allah sebagai Wali dan Hakim, Rasulullah sebagai penuntut dan Jibril sebagai saksi kami. 

Orang-orang yang menjadikanmu sebagai penguasa atas kaum muslimin akan tahu bahwa bagi orang-orang dzalim adalah seburuk-buruk pengganti. Ketika itu akan tersibak, kalianlah orang-orang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.

Segala puji bagi Allah yang menetapkan kebahagiaan bagi para kekasih-Nya dan mengakhiri kehidupan orang-orang pilihan-Nya dengan syahadah melalui pencapaian kehendak. 

Allah telah memindahkan mereka kepada rahmat dan kasih sayang-Nya, keridhoan dan ampunan-Nya. Tiada yang celaka bersama mereka, kecuali engkau, hai Yazid.

Kami memohon kepada Allah agar pahala mereka menjadi sempurna dan ganjaran serta simpanan mereka berlipat ganda. Kami memohon kepada Allah kebaikan pengganti dan keindahan tempat kembali. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

-----------------------------

Isak tangis para penduduk Syam di istana Yazid menjadi pengiring pidato Zainab. Pidato Zainab membuat semua yang hadir baik para pejabat ataupun masyarakat umum terbelalak kaget tidak percaya.

Ternyata mereka baru tahu kalau pemberontak yang disebut-kan oleh Yazid itu adalah putra-putri Rasulullah saw.

----------------------------------
Penggalan orasi Imam Ali bin Husein Zainal Abidin as sehari setelah orasi Zainab.
----------------------------------

Ketika tiba-tiba dari luar istana terdengar berkumandang azan, Yazid merasa malu dan terpukul ketika Imam Ali Zainal Abidin as bertanya, 

Hai Yazid, nama siapakah yang disebut oleh muazin itu dalam syahadatnya ? Apakah Muhammad Rasulullah itu kakekmu atau kakek Husein yang kau bunuh ?"

Yazid tidak menggubris pertanyaan Imam Ali Zainal Abidin as, tetapi memerintahkan pengawal menyeret si muazin yang bernama al-Manhal bin Umar ke hadapannya, "Seret muazin itu dan penggal lehernya karena telah mengganggu aku dengan kebisingannya".

Si muazin yang diseret itu duduk bersimpuh dihadapan Imam Ali Zainal Abidin as sambil bertanya sopan, "Tuanku, bagaimana keadaan Anda ?"

Imam Ali Zainal Abidin as menjawannya dengan nada bertanya, "Engkau lihat bagaimana keadaanku, seseorang yang ayahnya dibunuh dan digeletakkan di padang pasir sana ? 

Bagaimana keadaan seseorang yang keluarga-nya digiring dan didorong-dorong laksana sekelompok budak dan sekawanan keledai ?"

Imam Ali Zainal Abidin as melanjutkan, "Yazid telah menerjang batas antara muslim dan kafir, antara manusia dan binatang. Tidakkah kau lihat, orang-orang Nasrani lebih mengasihani kita ketimbang mereka yang mengaku umat kakekku Muhammad. 

Bangsa Arab berbangga bahwa Muhammad dari mereka. Quraisy bangga dihadapan bangsa Arab bahwa Muhammad dari mereka".

"Tapi lihatlah kami, putra-putri Muhammad telah menjadi sasaran keberingasan dan kekejaman mereka, kami diperlakukan sebagai tawanan dan gelandangan. Lihatlah kaki-kaki kami yang melepuh dan rambut kami kusut diterjang angin sepanjang perjalanan di gurun pasir". 

"Yazid telah menginjak-nginjak kehormatan kami. Yazid juga telah membeli hati nurani orang-orang yang mengaku sahabat dan umat kakekku Muhammad". 

"Kini hasrat kotor Yazid telah tercapai, meruntuhkan bangunan Islam yang telah dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun oleh Muhammad. Betapa teraniayanya Muhammad, kasihan Muhammad".

Lelaki muazin itu terus menangis sesenggukan sambil memukuli dada dan kepalanya menyesali dirinya sendiri, sampai akhirnya seorang pengawal menyeretnya ke tempat pemancungan di belakang istana".

Sementara itu, sebelum sampai di istana, Imam Ali Zainal Abidin as berbicara dengan seorang tua penduduk Syam.

Seorang lelaki tua mendekati Imam Ali Zainal Abidin as dan berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah membinasakan kalian dan memenangkan pemimpin kami"

Imam Ali Zainal Abidin as tahu bahwa orang tua ini tidak tahu sebenarnya peristiwa yang terjadi, kepadanya beliau bertanya, "Apakah engkau membaca Al-Qur'an ?" 

Apakah engkau baca firman Allah, "Katakanlah (Muhammad), aku tidak meminta balasan dari kalian kecuali kecintaan (mawaddah) kalian kepada keluargaku ?" 

Dan firman Allah, "Penuhilah hak keluarga (Rasul)", serta firman Allah, "Dan ketahuilah, sesungguh nya pada rampasan perang kalian terdapat seperlima hak Allah Swt, rasul-Nya dan keluarganya ?"

"Ya" jawab lelaki tua tersebut.

Imam Ali Zainal Abidin as berkata, "Demi Allah, kamilah keluarga Nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut".

Beliau melanjutkan pertanyaannya, "Apakah engkau membaca firman Allah, "Sesungguhnya Allah ingin menghilangkan kotoran (rijz) dari kalian hai Ahlul Bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya ?"

"Ya" jawab lelaki tua itu.

Imam Ali Zainal Abidin as berkata, "Kamilah Ahlulbait itu wahai bapak tua".

Dengan terkejut bapak tua itu berkata, "Bersumpahlah demi Allah, bahwa kalianlah yang disebut ayat-ayat tadi".

Beliau menjawab, "Demi Allah, kamilah mereka itu, demi kakek kami Rasulullah, kamilah yang dimaksud ayat itu".

Lelaki tua itu sangat menyesal dan akhirnya bersujud mohon ampun dan bertaubat, "Aku berlepas diri kepada Allah dari orang-orang yang memerangi kalian".

--------------------------------------

Warga Syam sadar dan menyesal selama ini telah dibohongi oleh rekayasa Yazid. Kini mereka sadar, kepala yang diarak itu adalah kepala Imam Husein as cucu Rasulullah dan kerabat serta pengikutnya. 

Ketika Yazid masih berusaha berlepas diri dari tanggung jawab pembunuhan Imam Husein as dengan menuduh Ibnu Ziyad sebagai pembunuhnya, seorang pasukan Umar bin Sa'ad malah membuka kebohongannya dengan menyebutkan bahwa pembunuhan atas perintah Yazid. 

Masyarakat Syam marah kepada Yazid sehingga akhirnya Yazid ketakutan kalau rakyat berontak dan akhirnya segera membebaskan para tawanan keluarga Rasulullah saw, dan menyetujui permintaan Ali Zainal Abidin yaitu : 

- Menyerahkan kembali kepala Imam Husein as, untuk dikuburkan bersama jasad beliau di Karbala, 

-  Mengembalikan semua barang-barang yang telah dirampas oleh para pasukan, 

- Dan Yazid pun menghapus hukuman mati untuk Ali Zainal Abidin sehingga dia sendiri yang mengawal kepulangan keluarganya ke Madinah.

Sungguh Yazid tidak menyangka jika kematian Imam Husein as bukannya akan menghapus jejak Ahlulbait Rasulullah saw dari pikiran masyarakat tetapi ternyata justru malah meningkatkan rasa simpati masyarakat kepada Ahlulbait Rasulullah saw.

--------------------------------------

Di Madinah, terjadi kegemparan ketika penduduk mendapat khabar kembalinya keluarga Rasulullah saw. Ribuan orang, sanak keluarga keturunan Rasulullah saw berbaur  menyongsong dengan isak tangis pilu. 

Keluarga Imam Husein as kemudian menuju pusara suci Rasulullah saw dan menumpahkan kerinduan kepada beliau saw sambil mengadukan penderitaan mereka, mengadukan perlakuan umat kepada mereka.

Sejak saat itu menyebarlah cerita peristiwa tragis Karbala ke penjuru negeri. Masyarakat Madinah begitu marah sehingga mencabut bai'at kepada Yazid. Perlawanan kepada Bani Umayah merebak dimana-mana. 

Untuk meredam perlawanan masyarakat, Yazid semakin brutal bertindak. Madinah dihancurkan dengan kejam selama 3 hari, pembunuhan sadis, pemerkosaan dan penjarahan terjadi di kota Rasulullah saw tersebut, Baitullah di Mekah dihancurkan dengan panah api. 

Zainab yang dianggap sebagai penyebar berita tragedi Asyuro, diasingkan oleh Yazid ke Mesir, sampai wafat dan dimakamkan di sana.

Imam Ali Zainal Abidin as diawasi dengan ketat tidak boleh bertemu dengan pengikut beliau. Beliau as akhirnya berdakwah lewat do'a-do'a beliau yang termashur "Shahifah Sajjadiyyah" sampai kesyahidan beliau diracun kalifah generasi penerus Bani Umayah.

Rupanya Allah Swt menyegerakan hukuman untuk Yazid. Selama penyerangan pasukannya ke Ka'bah, di Syam Yazid tewas mengenaskan terkena tetanus digigit oleh kera peliharaannya sendiri. 

Berakhirlah era kekuasaan teror Yazid bin Muawiyah, tetapi teror terhadap pengikut Ahlulbait as tidak akan pernah berhenti. 

Kalifah Bani Umayah penerus Yazid terus melakukan kekejaman dan teror terhadap umat Islam khusus nya para pengikut Ahlulbait Nabi saw yang dianggap penghalang terhadap kelanggengan kekuasaan dzalim penguasa.

Sampai kekuasaan beralih ke Bani Abassiyah, para Imam Ahlulbait as tetap dipandang sebagai musuh yang menjadi penghalang kekuasaan mereka. 

Tetapi perjuangan melawan kedzoliman para penguasa tiran tetap berlanjut sampai sekarang. Pengorbanan Imam Husein as menjadi inspirasi global yang mendunia, untuk terus berjuang melawan Yazid-Yazid masa kini yang masih berkeliaran. 

Panggilan Imam Husein as di akhir hayat beliau di padang Karbala, " Wahai manusia, adakah yang mau menolong aku ?" kini mendapat sambutan jutaan manusia yang berdatangan menziarahi beliau di Karbala pada hari Arbain. . . . Labaika ya Husein . . . kami memenuhi panggilanmu . . Labaika ya Husein . . . Salam untukmu ya Husein. Semoga engkau melihat tulisan sederhana ini ya Imamku . . . Semoga engkau ridhoi ya Imam . . .

Persembahan kecil untuk Imam Husein as dan para syuhada Karbala.

_____________
*Tulisan dikutip dari facebook Sucipto Redianto