Sayyidah Fathimah sa adalah Manusia Suci

Fatimah sa (bahasa Arab:فاطمة سلام الله عليها) atau terkenal dengan nama Fatimah az-Zahra adalah putri Nabi Muhammad saw dari Khadijah al-Kubra sa dan istri dari Imam Ali as ... adalah salah seorang dari lima orang manusia istimewa yang termasuk dalam Ashabul Kisa'.

Ashab al-Kisa' (bahasa Arab: اصحاب الکِساء) adalah gelar yang diberikan kepada 5 manusia suci, yaitu Nabi Muhammad saw, Imam Ali bin Abi Thalib as, Fatimah sa, Imam Hasan as dan Imam Husain as; yang menjadi Asbabun Nuzul dari turunnya quran surat al-ahzab ayat 33, yang dikenal dengan nama Ayat Tathir, yaitu:

"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait
dan memsucikan kamu sesuci-sucinya
." (Qs. Al-Ahzab: 33)

Dalam sebagian hadis disebutkan bahwa ayat ini turun di rumah Ummu Salamah, salah seorang istri Nabi Muhammad saw. Pada waktu itu, Nabi Muhammad saw menyelimuti Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dengan kain khaibari (kain kisa), kemudian menengadahkan kedua tangannya ke arah langit sembari berdo'a, "Ya Allah, Ahlulbaitku adalah keempat orang ini, sucikanlah mereka dari segala kotoran (al-Rijs)."

al-Rijs menurut mayoritas ulama berarti dosa, fasik, syaitan, syirik, keraguan, kekikiran, ketamakan, hawa nafsu dan bid'ah.

Disebutkan juga dalam riwayat yang sahih, bahwa Ummu Salamah yang melihat kejadian tersebut, juga hendak masuk ke dalam balutan kain Kisa' itu, bertanya kepada Nabi saw, "Ya Rasulullah, bukankah aku juga bagian dari Ahlulbaitmu?", namun Nabi Muhammad saw tidak mengizinkannya dan memberikan jawaban bahwa ia adalah istrinya dan ia {Ummu Salamah} berada dalam kebaikan.

Peristiwa turunnya ayat tersebut menegaskan bahwa Ashab al-Kisa' yang terdiri dari lima orang suci tersebut adalah sebaik-baiknya manusia, semulia-mulianya makhluk dan yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah swt.

Ayat Tathir ini juga menjadi dalil atas kesucian Ahlulbait as dari segala bentuk dosa, juga
menunjukkan kemaksuman mereka dan sesaat pun mereka tidak pernah keluar dari jalur ketaatan kepada Allah swt.

Ayat ini (QS Al-Ahzab 33) kemudian menjadi dalil juga bahwa yang dimaksud Ahlulbait dalam ayat tersebut adalah kelima manusia suci ini, dan mereka semua adalah makshum, termasuk Sayyidah Fathimah sa.

Surah Al-KautsarAyat TathirAyat Mawaddah dan Ayat Ith'am serta sejumlah hadis seperti Hadis Bidh'ah dan Hadis Laulaka semuanya berkisar mengenai keutamaan yang dimiliki Sayidah Fatimah sa. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi saw memperkenalkan Fatimah sa sebagai sebaik-baik wanita di dua alam dan diyakini bahwa kemurkaan dan keridhaannya adalah kemurkaan dan keridhaan Allah swt .

Kedudukan Fathimah sa di sisi Allah SWT

Mari kita simak video ceramah Ustadz Muhammad bin Alwi BSA yang membahas topik tsb:



Kelahiran Fathimah sa

Fatimah as, puteri Rasulullah saw merupakan wanita yang paling mulia kedudukannya. Kemulian itu bahkan diperoleh sejak menjelang kelahirannya, dan kemudian kelahirannya pun dibidani oleh 4 wanita suci.

Berdasarkan sumber-sumber sejarah, beliau lahir pada tanggal 20 Jumadil Akhir di kota Mekkah, di rumah Sayidah Khadijah sa di gang Attharin dan gang al-Hajar di dekat tempat sa'i,

Tentang kelahiran Fathimah as, Rasulullah saw bersabda, “Jibril datang kepadaku membawa buah apel dari surga, kemudian aku memakannya lalu aku berhubungan dengan Khadijah lalu ia mengandung Fatimah. Khadijah berkata: “Aku hamil dengan kandungan yang ringan. Ketika engkau keluar rumah, janin dalam kandunganku mengajak bicara denganku.

Ketika aku akan melahirkan janinku aku mengirim utusan pada perempuan-perempuan Quraisy untuk dapat membantu melahirkan janinku, tapi mereka tidak mau datang bahkan mereka berkata: Kami tidak akan datang untuk menolong isteri Muhammad.

Maka ketika itu datanglah empat perempuan yang berwajah cantik dan bercahaya. Salah dari mereka berkata: Aku adalah ibumu Hawa’; yang satu lagi berkata: Aku adalah Asiyah binti Muzahim; yang lain berkata: Aku adalah Kaltsum saudara perempuan Musa; dan yang lain lagi berkata: Aku adalah Maryam binti Imran ibunda Isa. Kami datang untuk menolong urusanmu ini.

Kemudian Khadijah berkata: Maka lahirlah Fatimah dalam kedaan sujud dan jari-jarinya terangkat seperti orang sedang berdoa.” (Dzakhâir Al-`Uqbâ, halaman 44)

***

Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ketika aku diperjalankan ke langit, aku dimasukkan ke surga, lalu berhenti di sebuah pohon dari pohon-pohon surga, dan aku tidak melihat yang lebih indah dari pohon yang satu itu, daunnya paling putih, buahnya paling harum.

Kemudian aku mendapatkan buahnya lalu aku makan. Buah itu menjadi nuthfah di sulbiku. Setelah aku sampai di bumi aku berhubungan dengan Khadijah kemudian ia mengandung Fatimah. Setelah itu setiap aku rindu bau surga aku mencium bau Fatimah.” (tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang surat Al-Isra’: 1; Mustadrak Ash-Shahihayn 3: 156)

Gelar Yang Disematkan Kepada Sayyidah Fathimah sa

Ada beberapa gelar yang disematkan bagi Sayyidah Fatimah sa, yaitu berjumlah sekitar tiga puluh gelar. Para peneliti meyakini bahwa gelar-gelar ini menerangkan sebuah karakteristik atau ciri-ciri khusus perilaku Fatimah sa.

Beberapa gelar yang terkenal, antara lain:

  • Az-Zahra (terang dan bercahaya)
  • al-Shiddiqah (sangat jujur)
  • al-Muhaddatsah (orang yang diajak bicara oleh malaikat)
  • al-Batul
  • Sayidatu Nisa al-'Alamin
  • al-Manshurah (yang ditolong),
  • al-Thahirah (bersih dan suci)
  • al-Muthahharah (disucikan)
  • al-Zakiyyah (bersih dari akhlak yang buruk)
  • al-Mubarakah (penuh berkah)
  • al-Radhiyah (yang ridhai kepada Allah)
  • dan al-Mardhiyah (seseorang yang Allah rela kepadanya)

Pada menjelang usia 5 tahun, Fatimah as ditinggal wafat oleh ibunda tercintanya. Sehingga ia harus menggantikan posisi ibunya, berkhidmat kepada ayahnya, membantu dan menolong Rasululah saw. Sehingga ia mendapat gelar Ummu Abiha (ibu dari ayahnya).

Tidak jarang Fatimah as menyaksikan ayahnya disakiti orang-orang kafir Quraisy. Ia menangis saat-saat menyaksikan ayahnya menghadapi ujian yang berat akibat perilaku orang-orang kafir Quraisy. Bahkan tangan Fatimah yang berusia kanak-kanak yang membersihkan kotoran di kepala ayahnya saat kafir Quraisy melempari Rasulullah saw dengan kotoran.

Fatimah as digelari penghulu semua perempuan (sayyidatu nisâil `alamîn)

Aisyah berkata: Fatimah as datang kepada Nabi saw dengan berjalan seperti jalannya Nabi saw. Kemudian Nabi saw mengucapkan: “Selamat datang duhai puteriku.”

Kemudian beliau mempersilahkan duduk di sebelah kanan atau kirinya kemudian beliau berbisik kepadanya lalu Fatimah menangis. Kemudian Nabi saw bersabda kepadanya: “Mengapa kamu menangis?” Kemudian Nabi saw berbisik lagi kepadanya. Lalu ia tertawa dan berkata: Aku tidak pernah merasakan bahagia yang paling dekat dengan kesedihan seperti hari ini.

Lalu aku (Aisyah) bertanya kepada Fatimah tentang apa yang dikatakan oleh Nabi saw. Fatimah menjawab: Aku tidak akan menceritakan rahasia Rasulullah saw sehingga beliau wafat.

Aku (Aisyah) bertanya lagi kepadanya, lalu ia (Fathimah sa) berkata: (Nabi saw berbisik kepadaku): “Jibril berbisik kepadaku (Rasulullah saw), Al-Qur’an akan menampakkan padaku setiap setahun sekali, dan ia akan menampakkan padaku tahun ini dua kali, aku tidak melihatnya kecuali datangnya ajalku, dan engkau adalah orang pertama dari Ahlul baitku yang menyusulku.” Lalu Fatimah menangis.

Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Tidakkah kamu ridha menjadi penghulu semua perempuan ahli surga atau penghulu semua isteri orang-orang yang beriman?” Kemudian Fatimah tertawa. (Shahih Bukhari, kitab Awal penciptaan, bab tanda-tanda kenabian dalam Islam; Musnad Ahmad 6: 282, hadis ke 25874)

Fatimah as menyerupai Nabi saw

Aisyah Ummul mukminin berkata: Aku tidak pernah melihat seorangpun yang paling menyerupai Rasulullah saw dalam sikapnya, berdiri dan duduknya kecuali Fatimah puteri Rasulullah saw.

Selanjutnya Aisyah berkata: Jika Fatimah datang kepada Nabi saw, beliau berdiri menyambut kedatangannya, dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya. Demikian juga jika Nabi saw datang kepadanya ia berdiri menyambut kedatangan beliau dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya…” (Shahih At-Tirmidzi 2: 319, bab keutamaan Fathimah; Shahih Bukhari, bab Qiyam Ar-Rajul liakhihi, hadis ke 947; Shahih Muslim, kitab Fadhil Ash-Shahabah, bab Fadhail Fathimah)

Marah Fatimah as adalah Marah Rasulullah saw

Rasulullah saw bersabda: “Fatimah adalah bagian dari diriku, barangsiapa yang membuatnya marah ia telah membuatku marah.” (Shahih Bukhari, kitab awal penciptaan, bab manaqib keluarga dekat Rasulullah saw; Kanzul Ummal 6: 220, hadis ke 34222)

Menyakiti Fatimah as adalah Menyakiti Rasulullah saw

Rasulullah saw bersabda: “Fatimah adalah bagian dari diriku, menggoncangkan aku apa saja yang menggoncangkan dia, dan menyakitiku apa saja yang menyakitinya.” (Shahih Bukhari, kitab Nikah; Shahih Muslim, kitab Fadhil Ash-Shahabah, bab Fadhail Fathimah; Musnad Ahmad bin Hanbal 4: 328, hadis ke 18447)

***

Pinangan dan Pernikahan

Banyak orang yang melamar Sayidah Fatimah az-Zahra, tetapi pada akhirnya beliau menikah dengan Imam Ali as. Setelah pemerintahan Islam dibentuk atas pimpinan Nabi saw di Madinah, Fatimah sa mendapatkan penghormatan dan kedudukan istimewa di kalangan kaum Muslimin.

Selain itu, segala kecintaan Nabi Muhammad saw tercurah pada Fatimah sa. Dan karakteristiknya dibanding kaum wanita pada zamannya, menarik simpati sebagian kaum muslimin untuk menikah dengan putri Nabi saw.

Banyak kalangan dari pembesar Quraisy yang lebih dahulu memeluk Islam dibanding orang lain atau mempunyai kekuatan finansial yang baik mencoba meminang Fatimah sa.

Imam Ali as, Abu Bakar, Umar dan Abdurrahman bin Auf termasuk diantara orang-orang yang meminang Fatimah sa. Semua peminang selain Ali as ditolak oleh Nabi saw.

Nabi saw dalam menjawab mereka berkata: "Pernikahan Fatimah adalah urusan langit dan membutuhkan keputusan dan hukum Tuhan". Dalam sebagian tempat juga disinggung tentang ketidakrelaan Fatimah sa akan perkawinan dengan orang-orang yang telah datang meminangnya.

Karena Ali as memiliki hubungan keluarga dengan Nabi saw dan menyaksikan dari dekat karakteristik akhlak dan agama Fatimah sa, maka ia sangat mendambakan dapat menikah dengan Fatimah.

Namun, ahli sejarah menuturkan bahwa Ali as tidak memperkenankan dirinya untuk meminang putri Nabi saw.

Sa'ad bin Mu'adz menyampaikan masalah ini pada Nabi saw dan ia menyetujui lamaran Ali as serta menjelaskan keinginan Ali as, ciri-ciri perilaku dan keutamaannya kepada Fatimah sa yang disambut dengan senang hati olehnya.

Ali as sebagaimana Muhajirin Madinah yang lain, pada bulan-bulan awal setelah hijrah tidak memiliki kondisi ekonomi yang baik dan menghadapi kesulitan untuk membayar maskawin yang telah disepakati. Oleh karenanya, atas saran dan nasehat Nabi saw, ia menjual atau mengadaikan baju perangnya untuk mahar Sayidah Fatimah sa.

Acara akad pernikahan Ali as dan Fatimah sa dilangsungkan di masjid dan dihadiri oleh kaum muslimin. Terkait tahun acara akad nikahnya terdapat perbedaan pendapat. Mayoritas sumber menyebutkan tahun ke-2 H/623. Resepsi pernikahannya diselenggarakan setelah perang Badar pada bulan Syawal atau Dzulhijjah tahun ke-2 H/623.

Hidup Bersama Ali

Dalam berbagai keterangan sejarah dan riwayat disebutkan bahwa Fatimah sa sangat mencintai Ali as dalam kondisi apapun, bahkan menyatakan di depan Nabi saw bahwa Ali as adalah sebaik-sebaik teman dan suami.

Penghormatan kepada Imam Ali as juga menunjukkan keagungan karakteristik Sayidah Fatimah sa. Disebutkan bahwa Sayidah Fatimah sa memanggil Imam Ali as di dalam rumah dengan kata cinta dan di tengah-tengah masyarakat dengan panggilan Abal Hasan.

Dalam beberapa catatan dimuat bahwa Fatimah sa di dalam rumah memakai wewangian dan perhiasannya untuk Imam Ali as dan terkadang menginfakkan kalung dan anting perhiasannya (kepada orang yang membutuhkan).

Periode awal kehidupan Fatimah sa dan Ali as disertai dengan kesulitan ekonomi hingga terkadang mereka tidak mendapatkan makanan yang dapat mengenyangkan Hasan dan Husain. Namun demikian, Fatimah sa tidak protes atas kondisi yang ada dan bahkan untuk membantu suaminya dalam mencari nafkah, beliau memintal wol

Fatimah sa menginginkan pekerjaan-pekerjaan rumahnya dia lakukan sendiri dan menyerahkan pekerjaan luar rumah kepada Ali as.

Ketika Rasulullah saw mengutus seorang pembantu bernama Fiddhah ke rumah Fatimah sa dan pekerjaan yang ada dalam rumah tidak dibebankan seluruhnya kepada Fiddhah, akan tetapi separuh pekerjaan rumah dia lakukan sendiri dan separuhnya lagi dia serahkan kepada Fiddhah. Berdasarkan sebagian laporan, atas saran Fatimah sa, satu hari Fiddhah bekerja di rumah dan di hari lain Fatimah sendiri yang membereskan pekerjaan rumah.

Anak-anak

Literatur Syiah dan Ahlusunah sepakat bahwa Imam Hasan, Imam Husain, Zainab dan Ummu Kultsum adalah empat putra-putri Fatimah sa dan Ali as. Dalam literatur Syiah dan sebagian literatur Ahlusunah disebutkan juga putra lain yang gugur dari kandungan dalam peristiwa yang menimpa Fatimah sa sepeninggal Nabi saw. Namanya adalah Muhsin.

Peristiwa di Akhir Kehidupan

Beberapa bulan di akhir kehidupan Fatimah as terjadi peristiwa yang menyakitkannya. Para sejarawan menyebutkan bahwa pada masa-masa ini tak seorang pun menyaksikan bahwa dia pernah tertawa.

Pada tahun 11 H/632, Fatimah sa meninggal dunia; setelah beberapa waktu menahan sakit akibat derita jiwa dan raga yang ditimpanya dalam suatu peristiwa pasca Nabi saw wafat.

Sebelum kesyahidannya, Fatimah sa berwasiat supaya acara pemakaman dan penguburannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan merahasiakan penguburannya.

Menurut ahli sejarah, Ali as dibantu oleh Asma binti Umais memandikan istrinya, dan Imam Ali as yang menyalati jenazah istrinya. Selain Imam Ali as, ada beberapa orang lagi yang ikut serta dalam menyalati Fatimah sa. Terjadi perbedaan pendapat tentang jumlah dan nama-nama mereka. Sumber-sumber sejarah menyebutkan Imam Hasan as, Imam Husain as, Miqdad, Salman, Abu Dzar, Ammar, Aqil, Zubair, Abdullah bin Mas'ud dan Fadhl bin Abbas yang ikut serta dalam salat itu.

Tempat Dimakamkan

Jasad suci Sayidah Fatimah sa diusung dengan keranda yang dibuat atas permohonannya dan dikuburkan secara sembunyi-sembunyi. Pemakaman secara sembunyi-sembunyi menyebabkan tempat pemakaman Sayidah Fatimah sa terahasiakan dari khalayak dan kuburannya tidak pernah terungkap.


***

Referensi:
https://www.erfan.ir/indonesian/58780.html
https://id.wikishia.net/view/Fatimah_az-Zahra_sa
https://id.wikishia.net/view/Ayat_at-Tathir
https://id.wikishia.net/view/Ashabul_Kisa%27