oleh: Hasyim Arsal Alhabsi, Direktur Dehills Institute
Sejarah Islam adalah narasi yang penuh dengan cahaya kebijaksanaan dan perjuangan keadilan.
Namun, dalam setiap masa, selalu ada bayangan kelam yang mencoba mengaburkan cahaya itu—sebuah ideologi yang berakar pada kebencian, kedengkian, dan permusuhan terhadap kebenaran.
Dalam eskatologi Islam, figur Sufyani muncul sebagai simbol kezaliman yang akan menguasai dunia sebelum kedatangan Imam Mahdi, membawa fitnah yang membutakan hati manusia.
Tetapi Sufyani bukan hanya sosok yang akan datang di akhir zaman. Ia adalah sebuah fenomena, sebuah pola pikir, dan sebuah ajaran yang telah hidup sejak masa Rasulullah ï·º.
SUFYANI adalah simbol kebencian terhadap Ahlul Bait, simbol kebencian terhadap Islam Rahmatan Lil'alamien, warisan permusuhan yang terorganisir sejak era Bani Umayyah hingga menjelma menjadi gerakan ekstremis modern yang merusak Islam dari dalam.
Sufyani sebagai sebuah konsep bukanlah hal baru. Ia adalah kelanjutan dari dendam lama yang tertanam sejak Islam hadir membawa pesan tauhid.
Sejak awal, ada segelintir manusia yang tidak mampu menerima bahwa risalah terakhir turun kepada Muhammad ï·º, seorang pemuda Quraisy yang bukan berasal dari garis Bani Umayyah.
Ketika Islam semakin kuat, Abu Sufyan dan keluarganya menerima Islam bukan dengan hati yang tulus, tetapi dengan hati yang penuh kedengkian.
Setelah wafatnya Rasulullah ï·º, keturunan Abu Sufyan mulai menapaki jalan politik, hingga akhirnya membentuk dinasti Bani Umayyah, kerajaan yang bertopeng Islam tetapi berintikan kebencian terhadap Ahlul Bait.
Mereka:
- Mengubah khilafah menjadi monarki, di mana kekuasaan diwariskan kepada keturunan sendiri, sebagaimana yang dilakukan Muawiyah bin Abu Sufyan kepada Yazid.
- Menjadikan kebencian terhadap Ali bin Abi Thalib sebagai kebijakan negara, bahkan memerintahkan agar nama beliau dicaci di setiap mimbar khutbah Jumat.
- Membantai keturunan Rasulullah ï·º, puncaknya dalam tragedi Karbala, ketika Imam Husain dan keluarganya dibantai oleh pasukan Yazid bin Muawiyah.
- Menolak spiritualitas Islam, dengan menekan ajaran tasawuf, ziarah kubur, dan berbagai praktik yang menghormati Rasulullah ï·º.
Apa yang dilakukan Bani Umayyah bukan hanya pengkhianatan terhadap Islam, tetapi juga warisan kebencian yang terus berulang dalam sejarah.
---
ISIS dan Terorisme Global adalah Sufyani Modern
Hari ini, kita melihat Sufyani bangkit dalam bentuk yang berbeda. Ia tidak lagi berwujud seorang individu, tetapi sebuah ideologi yang merasuki hati mereka yang fanatik dan kejam.
Kelompok seperti ISIS, Al-Qaeda, dan ekstremis lainnya membawa ciri khas ajaran Sufyani dalam praktiknya:
1. Menghalalkan Darah Sesama Muslim
Mereka tidak segan membunuh sesama Muslim hanya karena perbedaan mazhab atau pandangan keagamaan.
Serangan terhadap masjid, tempat suci, dan umat Islam sendiri menjadi tindakan yang mereka anggap “jihad,” padahal itu hanyalah cerminan kezaliman Bani Umayyah di masa lalu.
2. Membenci Tradisi Islam yang Berakar pada Cinta
Mereka menolak Maulid Nabi, perayaan yang bertujuan mengenang Rasulullah ï·º dengan cinta.
Mereka menganggap Tahlilan dan Ziarah Kubur sebagai bid’ah, padahal itu adalah praktik yang telah ada sejak zaman Nabi ï·º.
Mereka menghancurkan situs-situs Islam bersejarah, sebagaimana ISIS meruntuhkan makam para sahabat dan wali-wali Allah.
3. Terorganisir dalam Sistem Kekuasaan Global
Seperti Bani Umayyah yang mendapat dukungan dari kekuatan politik tertentu untuk menyingkirkan Ahlul Bait, kelompok-kelompok ekstremis modern juga sering didanai dan dimanfaatkan oleh kepentingan politik global.
Mereka menjadi alat untuk menciptakan perpecahan di dunia Islam, mengadu domba Sunni dan Syiah, serta memperlemah umat dari dalam.
Kita tidak bisa tinggal diam menghadapi bangkitnya Sufyani dalam wajah modern. Islam yang sejati adalah Islam yang diwariskan oleh Rasulullah ï·º dan keluarganya—Islam yang penuh cinta, ilmu, dan keadilan.
Untuk mengalahkan ajaran kebencian ini, kita harus:
1. Menghidupkan Kembali Cinta kepada Ahlul Bait
Mengenalkan kembali sejarah Islam yang benar, di mana Ahlul Bait adalah pelita kebenaran.
Meneladani akhlak Ali bin Abi Thalib, kesabaran Imam Hasan, keberanian Imam Husain, dan kebijaksanaan Imam Ja’far Ash-Shadiq.
2. Menolak Radikalisme dan Ekstremisme
Tidak terprovokasi oleh ajaran yang menghalalkan darah manusia apalagi sesama Muslim.
Membangun dialog antara mazhab-mazhab Islam untuk melawan perpecahan yang dibuat oleh ideologi Sufyani.
3. Menyebarkan Islam yang Penuh Kasih Sayang
Menyebarkan narasi Islam rahmatan lil ‘alamin, bukan Islam yang dipenuhi kebencian dan permusuhan.
Mengajarkan sejarah yang benar, agar umat Islam memahami siapa sebenarnya musuh Islam dari dalam.
Sufyani bukan sekadar legenda atau sosok yang akan muncul di masa depan. Ia adalah simbol kebencian yang telah ada sejak awal sejarah Islam dan terus berlanjut dalam berbagai bentuk.
Hari ini, kita menyaksikan bagaimana ajaran kebencian ini masih berlanjut dalam berbagai kelompok yang mengklaim membawa panji Islam, tetapi sesungguhnya merusak Islam dari dalam.
Namun, cahaya kebenaran tidak akan pernah padam. Sebagaimana Imam Husain melawan kezaliman Yazid, sebagaimana Imam Mahdi dijanjikan untuk menegakkan keadilan, umat Islam hari ini juga memiliki tanggung jawab untuk melawan kebencian dan menyebarkan cahaya Islam yang sejati.
Saatnya kita kembali kepada Islam yang penuh cinta, ilmu, dan keadilan, bukan Islam yang dipenuhi dengan kebencian dan teror.
****
Ulasan berikut ini sangat menarik untuk disimak:

