Dibaca dari awal ...sampai akhir.. !

PERJALANAN MENCARI ISLAM

oleh Ismail Amin Pasannai 

Tahun 2001 saya ikut daurah islamiyah... diadakan lembaga dakwah di fakultasku yang kemudian sy tahu berafiliasi ke Wahdah Islamiyah yang bermanhaj salafi... 

sy digembleng selama 3 hari, kemudian dilanjutkan dengan tarbiyah setiap pekan... materi-materi keislaman yang baru saya dapat membuatku keranjingan... mengapa dari dulu tidak saya dapat? 

saya tidak pernah absen tarbiyah.. bahkan saya ikut ke jadwal tarbiyah ikhwan lain di fakultas berbeda.. dalam sepekan saya punya 5 kelompok tarbiyah yang membuatku dengan segera dikenal dikalangan ikhwan tarbiyah... 

keaktifanku yang terhitung luar biasa membuatku langsung diamanahkan menjadi sekum di lembaga dakwah fakultasku itu... padahal sy masih tahun kedua di kampus... 

setelah hampir setahun melalui marhalah ta'rifiyah saya pun naik jenjang ke marhalah tamhidiyah dan tidak berselang lama ke marhalah takwiniyah yang dibimbing langsung ustad alumni Madinah... dan berlangsung setidaknya sampai 4 tahun... 

sepanjang itu saya menggebu-gebu memperkenalkan manhaj salaf... saya aktifkan kembali lembaga dakwah daerah yang sempat vakum dan menjalankan program dakwah ke pelosok-pelosok bulukumba termasuk kesekolah-sekolah… 

saya terlibat dalam pengambil alihan Masjid Kampus untuk berdiri sendiri dan terlepas dari lembaga dakwah universitas yang cenderung liberal... dengan menjadi sekum di pengurus masjid kampus saya coret nama khatib-khatib Jumat yang tidak bermanhaj salaf yang sebelumnya menjadi langganan penceramah di masjid kampus… 

tidak terkecuali kepada keluarga dan masjid di kampung juga kuperkenalkan apa itu manhaj salaf, bagaimana cara salat yang benar, cara berhijab yang benar, cara berkontak dengan lawan jenis yang sesuai syariat dan apa saja amalan yang membatalkan keislaman… 

sy sampaikan amalan-amalan bid’ah yang harus dijauhi dan seterusnya… oleh teman-teman alumni SMA sy kadang dinyinyir dan ditertawakan, terlebih lagi kalau menolak salaman dengan teman perempuan atau menghindari tatapan mata... terlebih lagi mengenakan celana dengan kain di atas mata kaki jadi terkesan lucu.... 

mengapa saya begitu berapi-api memperkenalkan manhaj salaf? karena sy meyakini hanya salafilah yang benar, dan cara berislam orang-orang yang belum mengenal manhaj salaf itu salah semua… bisa terancam masuk neraka kalau tidak diluruskan… memperingati maulid nabi saja, dalam keyakinanku waktu itu adalah calon penghuni neraka...  

dalam kajian salaf juga diajarkan kelompok-kelompok yang menyimpang.. diantaranya, syiah… syiah digambarkan sedemikian jelek dan rusak, seolah-olah orang syiah itu tidak punya otak… 

sementara disaat yang sama, saya dekat dengan seorang senior di kampus yang dikenal sebagai orang syiah… dia salatnya rajin, kalau doa panjang-panjang dan jg menjaga interaksinya dengan lawan jenis… dia orangnya cerdas, bahkan jadi ketua organisasi intra kampus saat itu... dan saat berdiskusi dengannya,  sangat berbeda dengan apa yang saya ketahui mengenai syiah dari kajian kelompok-kelompok menyimpang yang diajarkan… 

sampai suatu hari lembaga dakwah fakultasku mengadakan bazar buku… saya heran, ada sejumlah tumpukan buku yang tidak dijual dan hanya disimpan di sekret… ketika saya tanya panitia, kenapa buku ini tidak ikut dijual, dijawab, “Itu buku-buku syiah. kita seleksi tadi dan itu tdk boleh ikut kita jual.”

karena penasaran, saya baca buku-buku yang disebut buku-buku syiah itu… dua hari dua malam saya disekret, saya baca buku-buku itu tanpa henti… sy hanya berhenti untuk salat di masjid, tidur dan ke kamar kecil, sebab saat makanpun aku tetap sambil membaca… sy tdk masuk kuliah demi menuntaskan rasa penasaran saya… 

hasilnya? saya oleng… 

apa yang diberitahu mengenai syiah dari ustad-ustadku sangat berbeda dengan yg sya baca… iya benar, 

ada beberapa prinsip syiah yang memang berbeda dengan sunni, seperti imamah dan beberapa amalan fikih yang berbeda… tapi dari buku-buku itu penjelasannya rasional dan jg ada dukungan ayat dan hadisnya… selebihnya kebanyakan fitnah, 

terutama mengenai mut’ah yang disamakan dengan zina dan pencacimakian sahabat… syiah memang menganggap mut’ah halal, tapi tdk berarti harus diamalkan apalagi persyaratannya lumayan ketat… dibanding banyak orang islam yang meyakini zina haram, tapi begitu keranjingan mengamalkannya… 

menuntaskan rasa penasaran yang tersisa, saya beranikan ikut kajian syiah… sy datangi markas ijabi dan ikut training bela ahlulbait… 

diajarkan tentang logika, epistemologi dan ushuluddin… saat itu, saya masih mengenakan celana di atas mata kaki ala ikhwan salafi, dan saya jadi kelihatan aneh sendiri… mungkin malah ada yang menganggap saya mata-mata wahabi kala itu… 

dipuncak training, ustad Miftah menyampaikan materi… beliau putra Kang Jalal, yang dikenal sebagai dedengkot syiah di Indonesia… selama kurang lebih tiga hari saya ikut training itu, tdk ada satupun pencacian terhadap sahabat… ikhwan-akhwat yang berinteraksi pun tetap terjaga tdk ada aktivitas nikah mut’ah yang sering disebutkan bahwa itu terjadi di majelis-majelis syiah… 

awalnya saya menganggap bahwa itu mungkin lagi taqiyah saja.. tapi iya masak mau taqiyah terus menerus, sampai kapan? 

apa taqiyahnya jg sampai dituliskan dibuku-buku? jadi dari mana orang-orang syiah belajar syiah yang benar kalau ustad-ustad dan buku-buku syiah taqiyah semua?….

saya tetap melanjutkan kajian salaf sy, termasuk mengurus organisasi, sambil saya juga terus mempelajari syiah… ternyata ada nikmatnya… melepaskan belenggu mazhab, kita jadi begitu enak berselancar ke lautan pengetahuan Islam yang begitu luas… 

dengan mindset yang telah berubah, saya jadi bisa memahami jamaah tabligh yang turut disebut-sebut kelompok menyimpang… saya baca artikel dan buku-buku JIL yang begitu liar dalam berpikir… sy mencoba memasuki alam pikiran mereka…saya menyatakan menolak pandangan yang menurut saya sdh kebablasan dan pd saat yang lain sepakat bahwa umat Islam memang harus meninggalkan kejumudan berpikir dan menghentikan animo berlebihan yang ingin mengembalikan masa lalu ke masa sekarang… 

setiap jumat, saya sengaja mencari masjid yang berbeda-beda… dekat rumah ada masjid muhammadiyah dan masjid NU, sy ikuti pengajian badha magrib di masjid muhammadiyah, dan habis subuh ikut kajian kitab di masjid NU… 

hasilnya sayapun merasa terlahir dengan pribadi yang begitu berbeda… Islam ini begitu luas, dan tidak satupun kelompok yang semestinya merasa berhak mengklaim satu-satunya sebagai kelompok yang selamat sementara itu baru diputuskan Allah sendiri pada hari kebangkitan… 

Islam yang ibarat lautan pengetahuan yang luas, masa bisa ditampung hanya oleh satu kelompok salafi saja atau NU saja atau Muhammadiyah saja atau syiah saja?

sampailah kemudian saya di Iran… tepatnya di kota Qom… di markas keilmuan Syiah sampai sekarang… 

di kota inilah saya paham, mengapa Islam terdiri dari banyak mazhab, mazhab terpecah lagi dengan banyak firkah.. firkah terpecah lagi menjadi banyak sekte.. dst… 

sampai di Iran pun ustad-ustad dan teman-teman salafi masih kerap mengontak saya... mereka meminta saya berhati-hati dengan syiah.. akidahnya sesat bla..bla... 

sy jadi merasa lucu sndiri... sy diminta hati-hati sama mereka yang tdk berinteraksi dengan orang syiah langsung, tdk pernah ke pusat keilmuan syiah, tdk pernah bermajelis dengan syiah, bahkan menolak membaca buku-buku syiah... apa namanya itu kalau bukan piti-piti? :D

Iran itu akhi, pernah menjadi bagian dari pemerintahan abbasiyah… yg saat itu penduduknya mayoritas sunni… 

dari Iranlah muncul ahli-ahli hadis yang bahkan diantaranya menjadi imam-imam mazhab sunni…  sebut sj imam muslim, imam al-hakim, imam ghazali dll… 

dan jg ilmuan-ilmuan terkemuka di dunia islam lahir dari Iran… panjang jika harus ditulis satu persatu… Iran juga pernah dikuasai oleh Syiah Ismailiyah yg membangun universitas al azhar di mesir… 

dan sejak masa dinasti safawi, penduduk syiah imamiyah menjadi mayoritas sampai sekarang… jadi Iran bukan hanya menjdi tempat berinteraksi banyak mazhab tapi juga banyak agama… mulai dari zoroaster, yahudi, kristen sampai Islam… 

mengapa Iran jadi mayoritas berpenduduk syiah imamiyah? itu panjang ceritanya dan melalui pergulatan luar biasa rakyat Iran.. saya melihat sendiri Dr. Umar shihab (kakak prof. Quraish Shihab) di depan semua pelajar Indonesia di Qom sambil meneteskan airmata mengatakan.. saya menyesal baru ke Iran diusia sesenja ini.. saya memasuki perpustakaan Ayatullah Marasyi dan disitu saya bisa melihat tulisan tangan ulama-ulama klasik... dari semua mazhab... 

betapa ruginya selama ini kita menepikan khazanah keilmuan Islam yang begitu luas yg tersimpan di Iran hanya karena kesumat dan prasangka yang tidak beralasan... 

begitulah...  

mungkin dari perjalananku ini sampai mati saya belum menemukan Islam yang benar-benar sepenuhnya Islamnya Nabi… tapi sy sdh bersyukur… tdk sebagaimana banyak orang, yang baru ikut kajian satu manhaj saja, itupun baru beberapa hari… sdh mrasa menjadi paling selamat… sampai merasa berhak memvonis pemahaman-pemahaman lain yang berbeda… 


اَلحمدُ Ù„ِلهِ الّذی جَعَÙ„َنا Ù…ِÙ†َ المُتَÙ…َسّکینَ بِولایةِ اَمیرِالمؤمنینَ Ùˆ الائمةِ المَعصومینَ علیهم السلام


keterangan foto:

saya dengan Syaikh Muhammad al Tijani, penulis buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran..." 

dia sebelumnya ulama Sunni Tunisia yang beralih ke mazhab Syiah setelah melalui penelitian panjang bertahun-tahun... 

sy mendapatinya tanpa sengaja berjalan sendiri di Qom... katanya dia sedang habis berjalan-jalan ke beberapa toko buku... ketika saya minta foto, orang-orang Iran baru menyadari keberadaannya dan jg mengerumuninya untuk meminta foto... 

oleh salah seorang ustad WI dalam salah satu pengajian yg sy ikuti, Syaikh Tijani ini katanya tokoh fiktif...