Islam secara tegas memerintahkan untuk mencintai keluarga Nabi, bahkan keluarga Nabi menjadi salah satu pusaka Nabi Muhammad Saw yang diwasiatkan untuk dijaga, dicintai dan ditaati sebagaimana memperlakukan pusaka Nabi lainnya, yaitu Alquran...
Karena keduanya tidak akan terpisahkan sebagai petunjuk bagi umat manusia sepeninggal Nabi ...
Yang jadi soal, ada sebagian orang yang mengaku muslim tapi ogah mencintai keluarga Nabi. Bukan hanya tidak mencintai tapi juga kebencian dan permusuhannya sangat keras pada keluarga Nabi.
Kelompok ini disebut Nashibi. Mereka ingin agar keluarga Nabi dihilangkan dan dihapus dalam sejarah dan literatur Islam.
Mereka tidak hanya memproduksi hadis-hasis palsu untuk mendiskreditkan dan mengenyampingkan peran keluarga Nabi tapi sampai pada melakukan upaya genosida, menghabiskan generasi keluarga Nabi.
Di antara upaya genosida itu adalah pembantaian keluarga Nabi di Padang Karbala di hari Asyura...
Tapi karena keturunan Nabi masih terus berlanjut melalui Imam Sajjad yang lolos dari pembunuhan di Karbala, maka yang dilakukan adalah upaya menjauhkan umat dari Ahlulbait Nabi.
Mulai dengan menyesatkan siapapun yang setia menjadi pengikut keluarga Nabi. Bukan hanya disesatkan tapi dikejar-kejar buat dibunuh.
Siapapun yang menunjukkan ekspresi kecintaannya pada keluarga Nabi akan disebut rafidah. Maka dengan stigma rafidah maka seseorang akan dipreteli hak-haknya; hak untuk berpendapat, hak untuk berkeyakinan, hak untuk beribadah, hak untuk berpolitik, hak untuk berbisnis bahkan sampai hak untuk hidup....
Nashibi sampai hari ini masih ada. Tapi dalam bentuk yang lebih licin. Tidak terang-terangan membenci keluarga Nabi. Tapi menggunakan narasi anti Syiah untuk kemudian melarang berbagai upaya untuk mendekatkan umat dengan keluarga Nabi.
Dia melarang maulidan, salawatan, ziarah kubur, sampai melarang peringatan Asyura. Semua dibungkus dengan kedok memurnikan tauhid dan memberantas bid'ah.
Tradisi salawatan sebelum dan sesudah salat mereka hapus dengan dalih tidak ada contohnya. Maulid mereka sebut bid'ah dan tasyabbuh dengan orang-orang kafir.
Ziarah kubur mereka sebut praktik kesyirikan. Peringatan Asyura mereka sebut tradisi Syiah dalam merawat dendam.
Situs-situs bersejarah yang banyak merekam memori mengenai Nabi dan keluarganya di Mekah dan Madinah mereka ratakan dengan tanah atau alihkan fungsinya....
Semua itu mereka lakukan dengan menggunakan logika agama, tapi dengan satu tujuan: menjauhkan umat dari keluarga Nabi....
Mereka menuduh Syiah sebagai musuh Ahlusunnah. Tapi diam-diam, mereka justru ingin memposisikan bahwa Nashibi = Ahlusunnah di mata Syiah... Padahal tidak!
Ahlusunnah bukan Nashibi. Ahlusunnah mencintai Nabi dan keluarganya.
Banyak ulama besar Sunni menulis pujian terhadap Ahlulbait, dan memperingati Asyura dengan caranya.
Imam Syafii dengan lantang mengatakan, jika mencintai keluarga Nabi disebut rafidah, maka saksikanlah penduduk bumi, bahwa aku adalah rafidah...
Maka fitnah terbesar Nashibi adalah memecah belah umat, membuat Syiah membenci Sunni, dan Sunni membenci Syiah, padahal kedua mazhab ini satu tubuh dalam cinta kepada Rasul dan keluarganya....
Karena itu, umat Islam harus waspada. Musuh kita bukan Syiah. Musuh kita bukan Sunni.
Musuh kita adalah Nashibi dan antek-antek mereka, yang terus bekerja menabur fitnah, merusak Islam dari dalam, menghapus cinta, menyebar kebencian, dan mengadu domba saudara seiman.
Seperti kata Habib Ali Al-Jufri: “Musuhmu bukan Sunni atau Syiah. Musuhmu adalah mereka yang ingin meyakinkanmu bahwa Sunni dan Syiah itu musuh.”
(Ismail Amin)
https://www.facebook.com/share/v/16aviPiBuy/

