Dulu di Suriah, Bashar Assad berkuasa dari tahun 2000. Semuanya baik-baik saja, sampai kemudian tahun 2011 terjadi pemberontakan. 

Yang anehnya pemberontaknya didukung multinasional dengan membawa kepentingan masing-masing. Milisi-milisi asing yang dipersenjatai masuk. 

Assad minta bantuan kepada Iran sebagai negara sekutunya, untuk mengatasi pemberontak. 

Terlebih lagi saat itu, Raqqah juga dikuasai daesh. Iran masuk ke gelanggang perang. Keterlibatan Iran sah dan legal secara hukum internasional, karena diminta oleh Bashar Assad selaku penguasa Suriah. 

Namun narasi yang berkembang untuk memunculkan kebencian dan permusuhan pada Iran dan Syiah adalah Iran masuk ke Suriah membantu Assad membantai Ahlusunnah, padahal yang dikejar dan diperangi adalah pemberontak. 

Oleh Iran, Raqqah berhasil direbut kembali, bahkan daesh kalah total dan terusir dari Suriah, sementara fraksi pemberontak yang lain yang dipimpin Jolani terpojok di Idlib. 

Sekali lagi, ini kenyataannya. yang diperangi Iran atas permintaan Assad adalah kelompok pemberontak, bukan ahlusunnah apalagi kaum muslimin. Namun narasi Syiah membantai ahlusunnah yang terus diulang-ulang. 

Sekarang kita bergeser ke Yaman. Mansur al-Hadi yang saat itu berkuasa di Yaman mendapat gangguan dari kelompok Houthi. Al-Hadi dituduh korup dan pro AS sehingga hendak digulingkan oleh kelompok pemberontak. Minta tolonglah Mansur al-Hadi kepada Arab Saudi untuk mengatasi pemberontakan.

Jadi posisinya sama ketika Assad meminta bantuan Iran, dan ini sah dan legal secara hukum internasional. Hanya saja kemudian, narasi yang berkembang tidak sebagaimana Iran di Suriah, Arab Saudi meski memborbardir wilayah Yaman dan menewsakan banyak anak-anak, tidak dibilang sebagai pembantai ahlusunnah. tetap saja dikatakan suadi berperang dengan pemberontak.

Nah di sinilah standar gandanya. 

Di Suriah, ketika Assad jatuh dan tidak lagi berkuasa, maka Iran juga hilang legalitasnya. Ketika yang berkuasa yaitu Jolani tidak membutuhkan iran untuk membantu kekuasannya, maka Iran menyingkir dan kembali. 

Di sini Iran menunjukkan bahwa tidak ada sama sekali ambisi membantai ahlusunnah, karena jika memang Iran punya ambisi itu, tentu perang masih akan tetap dilanjutkan,  termasuk melawan Jolani jika perlu. Tapi tidak. Iran memilih kembali ke tanah airnya. Iran menghargai kedaulatan Suriah, dan menghargai penguasa yang baru. 

Sementara di Yaman, ketika Houthi berhasil berkuasa dan Mansur al-Hadi melarikan diri ke Saudi. Saudi tetap melancarkan serangannya ke Yaman dan meminta Houthi menyerah. 

Nah di sini Saudi telah melakukan pelanggaran hukum internasional. Saudi terus menggempur Yaman dengan tujuan Mansur al-Hadi kembali mendapatkan kursi kepresidennya. Bedakan sikapnya, dengan Iran?

Iran menghargai kedaulatan Suriah. Kalau memang Iran sebagaimana yang sering dicitrakan memusuhi Sunni dan berambisi menguasai Suriah dan menghancurkan Sunni, Iran pasti menyerang Suriah dengan kondisinya yang masih lemah hari ini. Tapi tidak kan? 

Liat bagaimana Saddam Husain yang Sunni yang mengambil momen masih lemahnya Iran yang baru berdiri menjadi republik dengan memaksa Iran berperang selama 8 tahun. Dan Iran tidak merasa perlu harus memusuhi semua Sunni hanya karena kebrutalan Saddam Husain. 

Intinya, siapa yang paling diuntungkan ketika umat Islam terus diadu atas nama mazhab? Sejarah sudah membuktikan, setiap kali umat sibuk bertengkar di dalam, pihak luar yang tersenyum.

Karena itu, yang harus selalu kita ingat, yang paling keras berteriak soal hati-hati dengan Iran, tidak perlu mendukung Iran, Iran adalah Syiah, Syiah bukan Islam dan bahaya syiah  sering kali justru lupa bahwa yang paling berbahaya bagi umat adalah kebencian yang diproduksi atas nama agama....

ISMAIL AMIN